..
Di sebuah pondok depan rumah Bagas, langit dan Kelvin tengah duduk bersila dengan senyuman mereka yang melebar.
Di depannya sudah ada empat cangkir teh hangat juga onde onde di piring menemani malam yang sedikit dingin.
Bagas tak henti melempar tatapan tajam ke arah Kelvin, ia masih sangat ingat betapa ngeselin nya bocah itu waktu ngerusuh di jalan dan ngerusak gerobak siomai mang Udin.
"Hujan ngga di bawa?" Suara dari ambang pintu mengalihkan atensi ke empat pria yang sedang duduk di pondok.
Ida menatap langit lekat.
"Lu kesini bukan mau kasih kabar buruk kan Tong?" Suara Mpok Ida melirik di akhir, maklum saja, akhir akhir ini banyak kekhawatiran yang menyeruak di hati Ida semenjak melihat hujan. Terakhir kali.
"Bang hujan baik baik aja Mpok, dia lagi ke rumah kakek, ntar juga dia nyusul kesini kok, langit udah kirim pesan tadi" jelas langit.
Ida mengangguk pelan, mencoba percaya pada ucapan langit, walau perasaan nya masih saja tak enak.
"Kita kesini buat ngucapin terimakasih sama mang Herman, udah baik balikin motor langit" jujur langit dengan hati tulus seluas samudra.
Herman cuma angguk angguk doang.
"Gua nggak mau hujan kena masalah gegara persoalan lu, gua cuma mau bantu hujan doang, kalo lu mah gua bodo amat" ujar Herman sambil menyesap teh hangatnya.
Langit menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dibsertai cengiran bodoh.
"Abis ini kita konvoi lagi ya mang, kalo bang hujan udah sampe sini" pinta langit dengan nada memohon di sertai sedikit malu malu kucing.
"Hmm, boleh gua bakal antar kalian, Glen gak nyakitin lu kan?" Tanya Herman, matanya menelisik tubuh langit yang kelihatannya tak kurang suatu apapun.
"Nggak kok mang, aman" jawab langit sambil menepuk dadanya dua kali guna membuktikan pada Herman jika memang dia benar benar tidak apa apa.
Herman mengangguk, pandangannya beralih kepada satu anak lagi yang duduk di samping langit.
"Lu Kelvin kan? Bocah yang ngerusuh waktu ntu?" Tanya Herman, Kelvin mengangguk membenarkan.
"Lu yang ajak langit balapan?" Sembur Herman, Kelvin menggeleng ribut menyangkal tuduhan Herman.
"Bukan gua mang, beneran, suwerr" ujar langit dengan raut wajah panik.
Herman memicingkan matanya.
"Bukan Kelvin kok mang, tapi abangnya" sanggah langit, membuat Kelvin bernafas lega. Namun tatapan Herman tak lepas darinya membuat Kelvin ciut.
"Dan lu mau? Lu nggak mikir apa karena ulah lu bisa berdampak sama hujan?" Sembur Bagas yang terlihat kesal dengan adik hujan di depannya.
"Yee, kenapa lu yang marah? Bang hujan aja kagak marah" sewot langit tak terima di sembur oleh Bagas.
"Wah wah, nantangin gelut Lo?" Bagas sudah berancang ingin menyerang langit, sebelum gebrakan terdengar dari telapak tangan Herman yang menghantam lantai kayu pondok.
Melihat Herman yang marah akhirnya mereka terdiam seperti anak ayam.
Belum sempat ketegangan itu berakhir, sebuah telpon masuk di ponsel langit.
Itu nama sang bunda.
"Halo nda" sapa langit ketika panggilan Mereka bersambung.
Langit terdiam ketika untaian kata dari mulut sang bunda meluncur bagaikan Godam yang menghantam dadanya telak, bahkan kini nafasnya mulai tersendat selagi otaknya memproses kalimat yang di sampaikan oleh sang bunda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama Hujan
FanficNgga usah penasaran sama hidup gua, alur hidup gua itu ngga seru, seruan juga ngikutin alur rumput yang bergoyang.
