...
Hari ini terlihat mendung dengan awan kelabu yang menggantung rendah.
Sepasang kaki dengan sepatu yang terpasang apik terlihat melangkah pelan, menginjak genangan air membuat riak tercipta dengan pelan.
Langit, pemuda itu berdiri di depan sekolah dengan bahu turun seolah tak bersemangat untuk menjalani hari ini.
Perlahan rintik hujan turun, beberapa siswa yang berada di luar terlihat berlari kecil memasuki gedung guna menyelamatkan diri dari rintik yang jatuh tanpa merasa bersalah.
Sedangkan langit, ia tak beranjak sedikitpun dari tempatnya berdiri, terdiam bagai patung, sampai seseorang dengan payung di tangannya mensejajarkan dirinya di samping langit, berbagi payung agar pemuda itu tak kebasahan.
Langit menoleh ketika merasakan ada seseorang yang berdiri di samping nya.
Senyumnya hangat, masih sama seperti dulu, tapi ada rasa sakit yang tak kasat mata ketika langit melihat senyuman itu.
"Kenapa masih berdiri disini?" Rakha, dengan senyum yang masih melekat mengangkat suara.
Jika saat ini adalah dulu, ketika langit masih berhubungan baik dengan Rakha, maka sudah di pastikan langit tak akan segan memeluk pemuda di sampingnya, merengek, menangis, melepaskan beban yang menghimpit dadanya yang mulai terasa sesak.
Jika ini adalah dulu, langit tak perlu mengemban masalahnya sendiri, ia bisa berbagi dengan Rakha.
Jika ini adalah dulu, langit tak perlu kesakitan sendirian, karena Rakha akan melindunginya.
Dan jika ini adalah dulu, langit tak akan memiliki pemikiran untuk pergi dari dunia, karena masih ada Rakha yang selalu berada di sampingnya.
Tapi itu dulu.
Sebelum rasa kecewa menelan segala kenangan baik antara dia dan sang kakak.
Rasa kasih yang berubah menjadi benci.
Terus memendam benci, dan pada akhirnya mati perlahan, dan tak terselamatkan.
Ego langit sangat tinggi hingga tak mampu berbalik untuk kembali berlari menemui sang kakak, ia hanya berjalan lurus ke depan, tanpa tau jika Rakha menunggunya membalikkan badan dan menyambutnya kembali.
Kembali ke hati langit yang sempat ia lukai.
Luka atas salah paham yang sulit di jelaskan.
Langit mendengus kemudian melangkah pergi dari payung Rakha tanpa kata, seperti mereka tak pernah berbagi makanan, berbagi tawa, berbagi kesedihan, ban berbagi luka bersama.
Rakha tersenyum kecut.
Harus bagaimana lagi caranya agar langit kembali percaya padanya, agar langit kembali memaafkannya, dan kembali seperti dulu?
Apa perlu ia mengatakan yang sebenarnya, jika alasan Rakha menghilang tak luput dari campur tangan ayahnya sendiri?.
Jika memang begitu, maka Rakha harus mengatakan segalanya, tak perduli jika nanti hubungan langit dan sang ayah akan memburuk.
Namun hati brengsek Rakha tetap tidak menginginkan hal itu terjadi, cukup dia dan sang ayah yang tak memiliki hubungan baik, langit jangan, meski pada akhirnya kini dia yang di benci sang adik.
⏩⏩
"Bang roy udah di belakang sekolah" ujar Darren pada langit yang duduk bersandar di warung dekat sekolah.
"Males gue" ujarnya dengan wajah tak berminat.
"Seriusan Lo?"
"Hmm"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama Hujan
FanfictionNgga usah penasaran sama hidup gua, alur hidup gua itu ngga seru, seruan juga ngikutin alur rumput yang bergoyang.
