Bersama Hujan pt34

392 44 16
                                        

...

Di sebuah bandara yang terlihat ramai. dari banyaknya orang yang berlalu lalang terdapat dua sosok pemuda dengan tinggi badan yang sedikit berbeda tengah berjalan santai, pakaian santai yang mereka kenakan sukses membuat sebagian orang yang berada di sana menoleh, soalnya bukan sekedar santai biasa, mereka masih mengenakan baju tidur, celana kolor pendek juga kaos longgar yang melekat pada tubuhnya.

Salahkan saja pada jam yang tergeletak mengenaskan di lantai karena jatuh akibat tendangan Kelvin.

Tadi malam Kelvin minta tidur di kamar Rakha Karena mereka habis menonton film horor, dan Kelvin dengan bantal di pelukan memasuki kamar Rakha, sedangkan Rakha hanya pasrah berbagi kasur dengan sang adik yang kalau tidur seperti jarum jam.

"Kita telat, lu sih" gerutu Rakha yang terlihat kesal, karena mereka sama sekali tidak sempat ganti baju, hanya cuci muka dan gosok gigi saja.

"Iii, Abang iya maap, udah jangan salahin teruuuus" rengek Kelvin dengan wajah memelas membuat Rakha sedikit terkekeh, rakha sangat suka menggoda sang adik ngomong ngomong, karena dia yang suka sekali merengek membuat Rakha gemas.

Rakha mengedarkan pandangannya dan netranya melihat sang ayah yang tengah berdiri dengan koper di tangannya.

"Heh bocah, itu ayah" tunjuk Rakha seraya menyenggol bahu Kelvin pelan, raut wajah Kelvin yang semula suram langsung berbinar ketika sudah menemukan sang ayah.

"Papaaaaa" teriak Kelvin sambil berlari kemudian memeluk sang ayah yang tertawa kemudian mengusak rambut berantakan Kelvin.

Ketika pelukan terlepas, Farhan menepuk pelan belakang kepalanya Rakha yang sudah ada di sampingnya.

"Apa apaan kalian? Jemput papa pake baju gembel?"

Rakha dan Kelvin saling lempar pandangan sebelum tawa mereka meledak.

"Ah udah lah papa, jangan di bahas, kita mampir sarapan dulu yaa, adek belum di kasih makan sama Abang" rengek Kelvin yang tengah bergelayut manja di lengan Farhan.

"Hahaha, oke oke, kamu yang tentukan saja" jawab Farhan.

Rakha yang melihat interaksi antara Kelvin dan Farhan hanya tersenyum simpul.

Rakha jadi merindukan ibunya dan ayah angkatnya, meski mereka tak pernah bersikap baik, setidaknya mereka ada, walaupun tak ada pelukan hangat ketika Rakha ulang tahun, ataupun panggilan 'nak' ketika Rakha sedang sakit.

Tapi mereka ada, mereka nyata, Omelan mereka jadi seperti rindu menyakitkan yang kembali ingin Rakha dengar.

Rakha memalingkan wajahnya, mengedarkan pandangannya kemanapun asal tak melihat interaksi Kelvin dan Farhan.

Entah kenapa setelah Rakha koma, ia jadi sosok yang sensitif, hal se kecil apapun mampu menyentuh hatinya.

Pemicu perasaan itu muncul entah karena luka masa lalu, atau ia sadar jika hidupnya bisa berakhir kapan saja.

⏩⏩

Langit terlihat menuruni tangga dengan muka bantal juga rambut yang acak acakan, pemuda itu kini memasuki area dapur dan menghampiri sang ibu yang tengah berkutat membuat sarapan.

"Pagi sayang, tidurnya nyenyak?" Tanya Lusi sambil mengaduk susu dalam gelas yang ada di tangannya.

"Hmm" langit mengangguk kecil, namun ia segera membalikkan badannya ketika Lusi menyodorkan segelas susu ke hadapan langit, bukannya menerima, langit justru mengambil gelas kosong dan mengisinya dengan air putih kemudian meneguknya di depan Lusi.

Lusi yang melihat anaknya menolak susu darinya pun mengerutkan dahi.

"Langit kembali ke kamar dulu ya mih"

Bersama Hujan Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang