Bersama Hujan pt39

513 47 26
                                        

...

Di pagi yang sejuk, dengan cahaya mentari hangat yang menyorot langsung ke wajah Rakha menciptakan warna oranye cantik, menambah kesan damai di wajahnya yang rupawan.

Rakha kini tengah duduk di halaman rumahnya yang dulu, menatap sekeliling seolah tengah menonton kilasan masa lalunya disana.

Setelah di pikir pikir, kehidupannya sebelum bertemu sang ayah lebih menyenangkan meski kerap di sertai pukulan.

Entah karena dulu dia menjadi anak yang bebas atau karena sekarang dia tengah menghadapi masalah besar. Tawa dan banyolan yang dulu sering ia lempar kini seperti asing baginya.

Kadang Rakha bertanya dengan diri sendiri, seberapa jauh keadaan merubah dirinya?.

Ting!!

Sebuah pesan masuk di ponsel rakha.

Rakha membukanya sejenak, kemudian kembali menutupnya tanpa berniat membalas.

Ingatannya kembali pada percakapannya dengan mang Herman tadi malam.

Tentang pria yang bersangkutan dengan langit.

Tentang Jun, dan Roy.

Setelah mendapatkan penjelasan tentang Jun dari mang Herman, ia memutuskan untuk menghubungi pria itu.

Rakha tau segalanya, bahkan sebelum kejadian yang menimpanya waktu itu, ia sudah tau jika langit adalah pengedar obat terlarang milik Jun.

Rakha tak tinggal diam setelah melihat kejadian dimana langit yang di hajar habis habisan waktu itu, Rakha mencari tau tentang pria bernama jun melalui mang Herman, dan kemarin adalah puncaknya, langit sudah terancam karena berita yang beredar, dan itu pula alasan Rakha tidak membantah jika obat yang ia bawa bukanlah obat terlarang.

Bagi Rakha, selama langit masih aman, ia tak masalah jikapun harus  dengan mengorbankan masa depannya. 

Karena menurut Rakha, tak ada masa depan baginya, tapi langit, ia masih memiliki masa depan yang panjang. 

Bodoh memang, tapi Rakha ingin membuktikan jika ia masih perduli dengan langit.

Drrrtttt.

Jun calling...

"Halo"

"Gua jemput di depan sekolah, kalo 15 menit Lo belum Dateng, berarti langit yang gue bawa"

Panggilan terputus.

Rakha menghembuskan nafasnya kasar sebelum bangkit dari duduknya kemudian menyambar jaket dan kunci motor.

Rakha pergi, tanpa pamit dengan Herman, melakukan perjanjian dengan Jun, tanpa memberitahu siapapun.

⏩⏩

Hari ini mungkin akan menjadi hari yang melegakan, tuduhan yang Rakha emban sudah di hapus, setelah dokter Syam klarifikasi sendiri ke sekolah Rakha.

Tak ada yang benar benar perduli dengan masalah mereka. Bahkan damar, Lusi maupun Farhan masih dengan ego mereka.

"Makasih banyak dok" ujar langit yang tersenyum lebar.

Dokter Syam hanya mengangguk kemudian mengeluarkan botol obat yang sempat ia dapat dari pak kepsek tadi.

"Sudah jadi tanggung jawab ku langit, kamu tenang saja, dan bisakah kamu berikan obat ini pada Rakha? Soalnya akhir akhir ini dia sering mengalami serangan rasa sakit yang tiba tiba, dan kemungkinan hal itu yang membuatnya terus membawa obat itu kemanapun, bahkan ke sekolah" ujar Syam.

Langit meraih obat yang ada di tangan Syam kemudian menggenggamnya erat.

"Langit bakal bawain ke bang Rakha, dokter gak perlu khawatir"

Bersama Hujan Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang