...
"Bang, itu langit!" Seru Kelvin yang melihat seorang pemuda tengah meringkuk di sebuah kursi di pinggir jalan tak jauh dari rumah sakit tempat Rakha berobat.
Rakha menajamkan matanya sebelum kelopak matanya melebar seraya mengangguk cepat.
"Berhenti Kel" titah Rakha sebelum turun dari mobil.
Rakha menghampiri pemuda yang ia yakini sebagai langit itu, kemudian sedikit mengguncang bahunya pelan.
Anak itu terdengar mengerang sebelum membuka matanya perlahan.
Netra mereka bertubrukan, namun dengan raut yang berbeda, jika mata Rakha terlihat sayu penuh kelembutan, maka mata langit tajam penuh kebencian namun tersirat luka di dalamnya.
"Ngapain Lo disini" desisnya.
Rakha menurunkan tangannya dari bahu langit kemudian menegakkan badannya.
"Lo harus ke rumah sakit" titah Rakha, sementara tangannya ia takutkan di belakang tubuh.
"Gak usah peduliin gue" ujar langit kemudian mencoba untuk memejamkan matanya kembali.
Rakha yang kembali mendapatkan penolakan akhirnya menyerah dan duduk di atas rerumputan dengan kaki yang di tekuk sila setelah mengeluarkan ponselnya.
Rakha mendial sebuah nomor di ponselnya sebelum suara dari sebrang telfon terdengar.
"Heh bocah Badung, alasan apa lagi setelah ini huh?"
"Om, aku menemukan pasien korban pemukulan, di taman dekat rumah sakit, makannya aku sedikit telat"
Terdengar dengusan dari sebrang telefon.
"Hawatirkan saja semua orang sementara aku di sini menghawatirkan mu bocah tengik!!"
Rakha terkekeh.
"Bisa bawakan aku ambulan om?"
"Kamu sendirian?" Ada nada khawatir yang tersebar di kalimat itu.
"Aku bareng Kelvin"
Helaan nafas lega terdengar dari sebrang telfon.
"Kenapa kamu gak bawa aja pasiennya ke sini bersamamu"
"Dia langit"
Tak perlu penjelasan detail untuk seseorang di sebrang telefon mengerti.
"Baiklah, aku akan kirim ambulan, tapi kamu harus lebih dulu sampai, kalau tidak, aku tak akan menangani pasien yang kamu sebut itu"
Rakha mengangguk meski ia tau seseorang itu tak melihat, "Hmm"
Sambungan telepon ia matikan sebelum beranjak dari tempat dimana langit meringkuk.
"Ayo bang" ajak Kelvin kemudian mereka pergi melanjutkan perjalanan, hanya ada hening di dalam mobil, tanpa pergerakan, tanpa suara.
Kelvin yang melihat Rakha hanya terdiam melihat ke luar jendela tak berani bertanya.
Ia takut hanya akan menambah luka seseorang yang hampir lebur di sampingnya.
Kelvin hanya terdiam,
ia tau.. tidak semua luka butuh petuah, beberapa luka hanya butuh teman diam.
⏩⏩
Trang!!
Suara gelas beradu dengan meja kaca yang berada di ruang tamu sebuah rumah mewah itu.
Raut wajah itu sedikit menegang dengan rahang mengeras.
Di ujung meja panjang itu terdapat pria paruh baya yang terlihat santai melihat ekspresi dari sang menantu juga putranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama Hujan
Fiksi PenggemarNgga usah penasaran sama hidup gua, alur hidup gua itu ngga seru, seruan juga ngikutin alur rumput yang bergoyang.
