...
Di sebuah ruangan yang penuh dengan dokumen berjajar rapih, terlihat pria tua tengah asik menghisap cerutu di belah bibirnya, wajahnya datar tanpa ekspresi.
Di atas meja di depannya terdapat sebuah amplop coklat berlogo rumah sakit yang di bawakan oleh tangan kanannya beberapa menit yang lalu.
Tangan keriputnya mengambil amplop itu dan mengeluarkan kertas putih yang sudah di bubuhi tinta di atasnya.
Kalimat panjang disana menguatkan keyakinannya akan satu hal.
Tentang kebenaran yang coba istrinya sampaikan.
Segaris senyum ia perlihatkan, menggambarkan kesenangan dan kepuasan.
"Aku ikuti permainanmu Lusi" gumamnya
ingatannya sontak kembali terlempar pada kejadian tadi malam, dimana keributan tercipta ketika langit menenggak jus yang di berikan pelayan.
Semuanya panik ketika lusi berteriak histeris, namun hanya sang kakek yang terdiam dengan seringai tipis.
Langit baik baik saja, tak terjadi apapun padanya.
Lantas Lusi menatap mertuanya dengan alis yang bertaut ketika melihat tak ada reaksi serius pada langit.
"Apa yang kamu harapkan Lusi?" Ujar kakek dengan suara berat, membuat bulu kuduk Lusi meremang.
Dia merasa di jebak oleh mertuanya sendiri. Sedangkan damar yang tak tau apapun mengerutkan dahi, begitupun Rakha.
Langit mengerjapkan matanya.
"Gue gak mati kan?" Batinnya, dan bernafas lega ketika raganya masih tegak.
"Ampir aja gue mampus" gumam langit dengan perasaan lega luar biasa.
"Ayah.." Lusi menghadap ke arah pria tua itu meminta penjelasan.
Namun tak ada suara yang keluar, Hanya diam membisu sebelum mulutnya terbuka dan mengangkat suara yang membuat mereka menghentikan nafasnya sejenak.
"Kamu yang katakan atau aku sendiri yang perlu turun tangan Lusi?" Ujarnya tanpa mengalihkan tatapannya pada wanita cantik di depannya.
Kalimat sederhana milik mertuanya serasa menghempaskan jiwanya hingga ke dasar jurang.
Bukan Lusi tidak memahami kalimat penuh ancaman itu, kalimat yang berarti sang ayah sudah tau semuanya, Lusi lupa jika mertuanya bisa melakukan apapun yang dia kehendaki.
Lutut Lusi melemas kemudian menunduk dengan tangan yang terkepal di sisi tubuhnya, ia ingin mempertahankan langit, tapi, jika sang ayah sudah mengetahui semuanya maka hancurlah ia dan langit, apalagi jika damar mengetahui kebenarannya.
"Biar Lusi saja ayah" jawabnya.
"Ada apa ini?" Tanya damar menuntut penjelasan.
"Bicarakan di rumah kalian, saya tidak mau mendengar apapun lagi" suara sang kakek menggema sebelum pergi naik ke lantai atas, dimana kamarnya berada.
"Kita pulang" titah damar, sarat akan perintah.
"Kita pulang nak" ajak Lusi.
Disini langit paham satu hal, kakeknya tau apa yang selama ini di sembunyikan ibunya. Dan kemungkinan akan ada perang setelah mereka sampai di rumah.
Langit menoleh ke arah Rakha yang terdiam seperti memproses kejadian baru saja terjadi.
Tanpa kata tanpa sapa, langit berlalu begitu saja di depan Rakha.
"Pada dasarnya kita memang bukan kakakberadik, gue cuma orang asing yang kebetulan beruntung, jadi biarkan saja tetap seperti ini," batin langit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama Hujan
FanfictionNgga usah penasaran sama hidup gua, alur hidup gua itu ngga seru, seruan juga ngikutin alur rumput yang bergoyang.
