...
Tidak ada kata tidak ada pilihan lain, keputusan yang kamu pilih adalah jalan yang akan menentukan hidupmu. Takdir tidak pernah salah, hanya terkadang terlalu kejam dan menyakitkan.
Ting!!
Sebuah lonceng yang tergantung di atas pintu menandakan ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan mengalihkan perhatian seorang pemuda yang terlihat tengah mengelap meja dengan selembar kain yang ada di tangannya.
"Hari ini kamu telat" celetukannya dengan bibir mencibir.
Yang baru saja datang Hanya terkekeh menanggapi celetukan seseorang di depannya.
"Bagaimana?" Tanya Bagas, si pemuda dengan kain lap yang ada di tangannya.
"Masih sama" desah nya dengan mata menerawang ke arah kaca transparan yang menampilkan pemandangan di luar ruangan.
Bagas tersenyum simpul kemudian ikut mendudukkan dirinya di depan langit yang masih saja bergeming dengan raut wajah sama semenjak seorang dokter menyatakan jika Rakha koma satu tahun yang lalu.
"Gas, apakah nanti ketika bang Rakha bangun, semua sel tubuhnya masih bisa berfungsi normal?" Gumamnya ngelantur.
"Heh bocah, lu nggak percaya sama bang Rakha yah?"
Langit mengalihkan perhatiannya pada Bagas yang kini tengah menatapnya.
Satu tahun sudah berlalu setelah Rakha di nyatakan koma dan di bawa pergi oleh farhan, bukan waktu yang sebentar memang, tapi mereka yang senantiasa mengharap akan kembalinya si pria hujan kembali tak pernah merasa putus asa.
"Eh, Lang, apa lu nggak penasaran sama kabar Abang lu? Lu nggak mau cari tau gitu?" Ujar Bagas setelah mendudukkan dirinya di bangku samping langit.
"Bego kalo Lo tanya kaya gitu" dengusnya.
"Apa nggak kita cari aja bang Rakha? Ini udah lebih dari satu tahun, dan om Farhan sama sekali tidak mau mengabari kita, dia bagaikan hilang di telan bumi" ujar Bagas.
"Tapi kan kita nggak tau mereka ada di mana, dan kita juga udah gak bisa hubungi om Farhan, apalagi Kelvin juga ikut pergi" Bagas menghembuskan nafas berat.
"Lu bener juga" lirih Bagas.
"Woyy!! Kita masih punya Darren!!" Sentak Bagas pada langit yang membuat pemuda itu sedikit berjengit.
"Najis" gerutu langit.
"Ya lu pikir ada cara lain? Coba kasih tau gue" tantang Bagas.
"Gue bakal minta bantuan sama papi" ujarnya, sedangkan Bagas mendengus sambil memutar bola matanya malas.
"Kalo Lo gak mau nemuin Darren, biar gue aja" putus Bagas sambil beranjak pergi meninggalkan langit yang masih termenung di salah satu bangku disana.
"Kenapa?" Mang Udin menepuk bahu Bagas yang terlihat kesal di depannya.
"Kesel gue sama langit" apron yang berada di pinggangnya ia lepas.
"Gue minta ijin ya mang," ujarnya.
"Lu bebas pergi kok gas, makasih udah mau bantuin gua" ucap Udin dengan senyuman lebar.
"Ya selagi masih libur sekolah mang, dari pada dirumah, bosen, yang ada ntar gue ke inget hujan Mulu"
Udin mengangguk dan tersenyum simpul menatap kepergian Bagas yang kini keluar dari warung makan milik nya.
Udin memutuskan untuk mendirikan warung makan kecil kecilan setelah dulu insiden gerobaknya yang di tabrak, dan warung itu juga tak lepas dari campur tangan keluarga Kelvin sebagai bentuk permintaan maaf atas tindakan yang Kelvin lakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama Hujan
FanficNgga usah penasaran sama hidup gua, alur hidup gua itu ngga seru, seruan juga ngikutin alur rumput yang bergoyang.
