Bersama Hujan pt43 (END)

764 56 32
                                        

...

Mereka ber empat sudah sampai di sebuah pasar, untuk membeli beberapa bahan makanan yang akan Rakha buat, disana Rakha terlihat yang paling bersemangat.

"Bang udah balik yuk, berat nih" keluh Kelvin yang memang sudah membawa dua kantong kresek di kedua tangannya, tapi bukan cuma Kelvin kok, Bagas dan langit sama, cuma Kelvin memang anak yang suka merengek.

"Diem lu cil, ntar gue traktir es krim" ujar langit yang sama sama repot membawa belanjaan, karena mereka tak akan membiarkan Rakha untuk membawa barang SE berat itu.

Rakha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya yang pucat bertambah pias ketika peluh membanjiri pelipis.

"Bener kata Kelvin, mending kita udahan aja belanja nya, nanti kalo kurang, biar gue yang cabut" ujar Bagas menengahi, karena dia juga tak tega melihat Rakha yang terlihat sangat kelelahan, tapi mereka juga tak sanggup melunturkan senyuman di bibir pucat itu.

"Kita istirahat sebentar, katanya Lo mau es krim?" Tawar Bagas yang di anggukki semangat oleh Kelvin.

Dan di sinilah mereka, di sebuah kedai es krim dekat pasar.

"Udah di bilang pake corn aja, malah pesen yang pake mangkok" gerutu Bagas yang melihat Kelvin tengah asik dengan es krimnya, Bagas pikir mereka beli aja yang di bawa pulang, bukan malah makan di kedai.

"Kenapa?" Ketus Kelvin.

"Nggak papa, udah habisin aja, kita nunggu kok" ujar Rakha, sedangkan yang dua cuma mendengus kesal.

"Kalian nggak pesen juga?" Tanya Kelvin dengan tatapan polos.

"Gak!!" Jawab langit dan Bagas bebarengan.

"Oh iya, gue telfon emak dulu ya, biar nyiapin peralatan masak di rumah, soalnya kan  kalo di rumah lu belum ada tuh peralatan masak nya"

Rakha mengangguk "boleh".

Panggilan tersambung.

"Halo Mak, kita mau ada acara masak masak nih di rumahnya hujan, buat ngerayain kepulangan hujan, Mak mau bantu kan?"

"Mau lah gas pasti, ntar Mak masak. Juga di rumah ye, biar hujan jangan masak"

"Yaelah Mak, kita udah belanja banyak banget nih, hujan mau masak katanya"

"Ooh kalo gitu ya udah, hujan masak boleh, tapi jangan kebanyakan, biar gak kecapean"

"Iya maaak".

Bagas menutup teleponnya.

"Lu boleh masak, tapi jangan banyak banyak hu, gak boleh sama emak"

Hujan tersenyum sebelum mengangguk pelan.

Rakha menyapu pandangannya ke arah sekitar, dan netra nya tak sengaja melihat seseorang di balik gerobak permen kapas.

Nafasnya tercekat, tubuhnya perlahan bangkit dan menghampiri orang itu.

"Lu kemana bang?" Tanya langit.

"Kayaknya pengen permen kapas, udah biarin aja" sahut Bagas, dan langit pun mengangguk kemudian kembali bermain dengan ponselnya.

Sedangkan Rakha, sudah berada di depan pria itu.

"Ayah?" Panggil Rakha lirih.

Pria itu mengangkat pandangannya dan netra nya bertubrukan dengan mata Rakha yang berkaca.

Damar mendengus kesal.

"Kenapa kamu ada disini? Pergi sana!!" Usir damar.

"Kenapa ayah disini?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 19, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Bersama Hujan Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang