Bersama Hujan pt37

434 51 29
                                        

...

Tak ada siapapun, langit tak menemukan hujan dimanapun, bahkan ia sudah mengitari sekolah guna mencari sang kakak, namun nihil, dia tak menemukan siapapun, bahkan  di kantor guru pun ia tak menemukan sosok itu.

"Lo dimana bang?" Gumam langit seraya mengedarkan pandangannya berharap Rakha muncul, karena entah kenapa, ia sangat menghawatirkan pemuda itu.

"Gua janji bang, kalo Lo muncul sekarang, gua gak bakal sinisin lu lagi, gua janji" ujarnya pada angin kosong, berharap sang kakak mendengarnya.

"Bang langit!"

Seru seseorang yang terdengar dari arah belakang langit.

Nafas bocah yang baru saja memanggil langit terdengar terengah engah.

"Lo larinya cepet banget" desahnya.

Langit yang melihat Kelvin menunduk sambil memegangi lututnya  merasa heran.

"Lo disini?"

Kelvin mengangguk, "Lo cari bang Rakha?"

Langit mengangguk pelan, entah kenapa hatinya sedikit lega ketika melihat Kelvin, karena besar kemungkinan Kelvin tau dimana Rakha.

"Bang Rakha di skors, udah pulang tadi, gue yang anterin" ujarnya.

Langit memejamkan matanya, hembusan nafasnya kembali teratur, ada kelegaan disana.

"Dia... Baik baik aja kan?" Tanya langit hati hati.

Kelvin mengangguk , kemudian menggeleng. "Dia bakal di keluarin dari sekolah kalo memang benar terbukti obat yang bang Rakha konsumsi itu obat terlarang".

"Kelvin, jawab gue, sebenarnya ada apa selama bang Rakha nggak sama gue? Apa dia pemakai sama seperti apa yang di bicarakan?"

"Nggak bang, bang Rakha bukan pemakai, gue jamin seratus persen" jelas Kelvin dengan penuh keyakinan.

⏩⏩

Di sebuah kamar yang terlihat temaram, karena hordeng yang belum terbuka sepenuhnya, membuat cahaya sulit memasuki ruangan. Di atas kasur king size yang berada di kamar itu, terdapat pria dengan masih menggunakan baju tidurnya masih asik bergelung tak berniat bangkit.

Bahkan  ketukan pintu yang riuh sedari tadi tak ia hiraukan.

Damar, pria yang kini tergeletak sediri, tanpa pergerakan, bahkan Lusi tak berani hanya sekedar mendekat, semalam mereka tidur terpisah, rasa kecewa yang hingga di hati damar belum sirna, dan akan semakin menyakitkan ketika melihat atensi Lusi di sekitarnya.

"Mas, sarapan dulu" panggil Lusi dari balik pintu yang terkunci tak ia hiraukan.

Damar mengubah posisi berbaring nya untuk membelakangi pintu.

Damar menuli, dan mencoba buta.

Sedangkan di depan pintu, Lusi meremat jemarinya, liquid bening kini meluncur membasahi wajahnya yang pucat tanpa polesan.

Lusi bersandar pada daun pintu sebelum merosot dan membenamkan wajahnya di lipatan lutut.

Dia mencintai damar, sangat. Dan karena alasan itu pula ia melakukan hal nekat demi mempertahankan damar di sisinya.

"Kenapa semuanya jadi seperti ini?" Lirih Lusi di sela isakannya yang tak bersuara.

Damar sudah membencinya, bahkan sekarang menatapnya saja mungkin damar tidak sudi.

"Apa yang harus aku lakukan?" Bisiknya pada udara kosong.

Jika saja dulu ia tak gegabah, mungkin hal seperti ini tak akan terjadi.

Bersama Hujan Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang