Bersama Hujan pt38

487 45 14
                                        

...

Dua puluh menit terlewati, namun hening masih saja menyelimuti di antara tiga pria yang kini duduk bersila saling berhadapan.

Yang lebih muda menggaruk kepala belakangnya kasar, pertanda ia tengah gusar.

Gimana tidak gusar ketika mendapati hujan tiba tiba muncul di depan rumahnya malam malam dengan wajah berantakan.

"Kenapa?" Herman yang sudah tidak tahan akan keheningan  itu akhirnya buka suara.

"Ngga papa mang, hujan cuma pengen pulang" ujarnya hampir berbisik.

Herman mengangkat kedua alisnya.

"Pulang kesini?" Tanya Bagas.

Hujan menggeleng, "kerumah" jawabnya.

Herman dan Bagas saling pandang,

"Ke rumah lu?"

Hujan mengangguk.

Herman tersenyum, mungkin anak ini sedang merasa rindu dengan orangtuanya.

"Kenapa tiba tiba?" Suara Herman melembut.

"Akhir akhir ini banyak hal yang terjadi di hidup hujan mang, rasanya capek, pengen istirahat aja" ujar hujan dengan mata yang sudah berembun.

"Hey hey, lu kenapa sih? Kesambet jin Tomang waktu jalan kesini apa gimana? Kagak biasa biasanya lu putus asa kayak gini" celetuk Herman.

"Hujan boleh kok istirahat, mau nginep dimana? Di rumah Mpok, apa di rumah hujan? Pan udah di renovasi tu rumah, udah bagus lagi" sahut Mpok Ida yang tiba tiba keluar dari dalam rumah, menghampiri tiga pria yang berada di pondok depan rumah.

Hujan mengalihkan perhatiannya pada Mpok Ida, kemudian dengan wajah memelas mengulurkan tangannya.

"Boleh peluk bentar gak Mpok?" Dengan refleks Mpok Ida merengkuh bocah yang ia rawat dari kecil.

"Anak Mpok udah gede aja," ujar Mpok Ida sembari mengusap pelan kepala hujan yang ia benamkan di perutnya.

"Kapan Bagas di kasih adek Mpok?" Tanya hujan ketika ia mengurai pelukannya.

"Lah punya dua aja bikin Mpok migren, apalagi tambak satu yang spek Bagas, bisa bisa mpok baby blues" celetuk Mpok Ida yang di balas pelototan oleh Bagas.

"Kan biar rame Mpok, biar gak sepi sepi amat gitu,"

"Mpok mah cukup ada lu, sama Bagas aja udah rame hu".

"Tapi kalo hujan pergi? Ntar Bagas kesepian"

"Heh! Mulutnyaaa" peringat Bagas sembari memukul kepala hujan pelan, sedangkan hujan hanya mencibir.

"Kenapa? Mulut mulut gua"

"Ngomongnya  yang bener kalo punya mulut mah"

"Lah gua kan ngomongnya udah bener, gak gagu"

"Bangke lu hu"

"Udah udah, Napa kalo ketemu berantem Mulu sih, ntar kalo salah satu pergi baru tau rasa, kangen kangenan dah lu berdua" seru Mpok Ida yang kembali memeluk hujan.

Bagas berdecak kecil "Anak emak yang mana sih? Ngeselin deh" gerutu Bagas yang tidak terima ketika hujan malah dapat pelukan dari ibunya. Namun protesan itu hanya sebatas Mulut, karena Bagas tak pernah merasa keberatan jika berbagi orang tua kepada hujan.

_______________________________________

Damar menuruni tangga dengan langkah pelan, jika saja tenggorokannya tidak kering, mungkin ia tak akan Sudi untuk keluar kamar yang berpotensi besar bakal bertemu Lusi. Dia masih marah ngomong ngomong.

Bersama Hujan Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang