...
"Huaaa, capek mang" tubuh langit ambruk di meja yang habis ia bersihkan, hari ini warung mang Udin rame, dan sekarang langit baru bisa meluruskan badannya setelah jam menunjukkan pukul sembilan malam.
Mang Udin terkekeh melihat langit yang hari ini terlihat bekerja keras membantunya.
"Ini ada siomay spesial tanpa pare, buat den langit, juga es teh manis seger buat ngurangin dahaga" ujar mang Udin dengan nampan yang ia sodorkan di depan langit yang kini tengah menidurkan kepalanya di meja dengan tangan terlipat.
"Wiih, makasih mang" seru langit yang kini lahap memakan siomay nya membuat mang Udin tersenyum lebar.
"Hari ini kok Bagas nggak kesini mang?" Tanya langit dengan mulut penuh makanan.
"Telen dulu tong, keselek ntar lu"
Langit meraih es tehnya kemudian meneguknya dengan rakus.
"Katanya lagi ada tamu" celetuk mang Udin pada pemuda yang kini kembali menyuapkan siomaynya dengan nikmat sambil bergumam.
Ting!!
Suara lonceng dari pintu depan berbunyi, dan panjang umur, seorang yang tengah di bicarakan kini muncul.
"Itu anaknya Dateng" ujar Udin pada langit, dan ketika langit menoleh hendak mengumpat pada temannya itu, niatnya ia telan kembali, bahkan siomay yang ada di mulutnya sangat sulit ia telan ketika melihat sosok lain yang datang bersama Bagas.
Hujan mematung melihat langit yang kini tengah duduk di salah satu kursi warung mang Udin.
Senyuman hujan terbit dengan berat ketika tatapan tajam milik langit menghunus ke arahnya.
Langit berdecak kesal sebelum beranjak dari duduknya, kemudian dengan malas membuka celemek miliknya.
"Langit pulang mang," tukasnya sebelum meletakkan celemek miliknya di meja.
"Eh kenapa? Itu Bagas udah ada disini, kita duduk duduk aja dulu di sini, lagian di luar juga hujan" ujar mang Udin setelah melongok ke arah luar yang memang hujan baru saja turun.
"Iya Lang, ngapain sih cepet cepet pulang, disini aja dulu lagi, kita ngopi" tawar Bagas yang sama sekali tak di hiraukan langit.
Langit keluar dari warung dan hendak menaiki motornya sebelum satu cekalan tangan menghentikannya.
"Nih, bawa jas hujan, kayaknya Lo lupa ngga bawa" hujan menyodorkan sebuah jas hujan hitam ke arah langit yang ia pinjam dari mang Udin.
Langit memutar bola matanya malas "lepas!! Mau Lo apa sih hah?" Kesal langit sambil menarik kasar lengannya.
"Gue nggak mau apa apa, tapi Lo harus pake jas hujan"
"Males, Awas minggir!" langit sedikit mendorong bahu hujan membuat pemuda itu mundur satu langkah.
"Lang, tunggu, gue mau jelasin sesuatu sama Lo"
"Basi tau nggak! Bagi gua Abang gua Rakha udah meninggal, dia udah pergi ninggalin gua, dan gua gak kenal Lo siapa"
"Oke, gue emang orang lain, tapi se enggaknya Lo pake ini ya," hujan kembali berusaha memberikan jas hujan itu.
Langit mendengus kesal, "bisa gak sih Lo berhenti ganggu gue? Sok baik sama gue?"
"Nggak gue nggak bisa"
"Ssshhh, Lo itu ngeselin banget sih"
"Iya, gue tau".
Sedangkan di dalam, ketiga pria lainnya hanya melihat hujan yang tengah berusaha membujuk langit untuk memakai jas hujan di tangannya.
"Berantem gak sih itu mang?" Tanya Bagas, mang Udin hanya menoleh ke arah Herman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama Hujan
FanfictionNgga usah penasaran sama hidup gua, alur hidup gua itu ngga seru, seruan juga ngikutin alur rumput yang bergoyang.
