Bersama Hujan ep27

553 55 22
                                        

...

Mobil yang di tumpangi Darren berhenti di depan rumah yang cukup besar dengan halaman yang luas.

Darren turun dari mobil putihnya di ikuti langit yang juga turun.

"Lo ikuti gue," ujar Darren dan mengajak langit berjalan ke sisi gerbang kayu yang menjulang tinggi.

"Ini rumah siapa?" Tanya langit penasaran.

"Lo liat aja tuh" ujar Darren menunjuk seseorang, oh bukan, mungkin ada tiga orang yang kini tengah bersenda gurau di lapangan basket itu, terlihat dua remaja yang saling mengoper bola, dengan satu pri paruh baya yang duduk menopang dagu dengan senyuman lebar melihat kedua remaja itu saling bercanda sembari bermain basket.

Langit mengintip ke arah dalam melalui celah yang ada di samping gerbang.

"Lo tau pasti siapa yang ada di sana Lang," ujar Darren.

Langit mematung melihat senyuman yang sangat ia rindukan, Abang nya, disana tengah tertawa bahagia bersama seseorang yang sangat amat ia kenali, yang tak lain adalah Kelvin.

"Udah gue bilang, lambat Laun Kelvin bakal gantiin lu" cibir Darren membuat hati langit bertambah nyeri.

Satu tahun lamanya langit menunggu, berharap masih memilikimu kesempatan untuk bertemu, namun kenyataannya lain, ternyata sang kakak yang sangat ia tunggu kepulangannya tak pernah mengharapkannya.

Langit kecewa tentu saja. Hatinya bagai ter remas, ini lebih sakit daripada melepaskan sang kakak dulu.

Langit tertawa sumbang, namun maniknya basah dengan bulir bening yang menyusul membasahi pipi.

"Hiks, sialan" gumam langit dengan isakan pilu.

"Lo udah bahagia yah bang?. Lo gak tau seperti apa sakitnya dulu waktu gue di paksa lepasin Lo" gumam langit sebelum berbalik pergi dan memasuki mobil Darren kemudian meraung disana, menumpahkan emosi juga rasa sakit hatinya.

"Lo nggak balik ke gua bang? Kenapa?" Lirih langit tersendat karena isakan.

Darren memasuki mobil dan mendapati langit yang kacau di jok belakang sambil menelungkupkan kepalanya.

"Kita pergi" ujar Darren dan melajukan mobilnya tanpa persetujuan langit.

*

"Bang, lu kaya denger suara orang teriak gak sih?" Tanya seseorang yang kini mengambil alih bola oranye di tangan yang lebih tua.

"Siapa?" Tanya yang lebih tua.

Kelvin, yang lebih kecil menggeleng.

Rakha, yang lebih tua mengerutkan dahinya.

"Guys, sepertinya tadi ada yang baru dari sini" ujar Farhan sambil menunjukkan sebuah gambar kepada kedua pemuda itu.

"Langit?" Kaget Rakha, Farhan mengangguk.

"Dia disini"

Rakha berlari ke arah gerbang dan membuka pintu itu sekuat tenaga, namun nihil, dia tak mendapati siapapun disana.

Puk!

"Sepertinya sudah waktunya kamu kembali" ujar Farhan.

"Tapi om"

"Jangan biarkan langit salah paham denganmu" lanjutnya.

"Tapi ayah"

"Saya yang urus"

Rakha tersenyum tipis,

"Mulai besok, kamu kembali ke sekolah, dan kamu Kelvin, jaga Rakha untuk ayah," titah Farhan pada sang putra yang di angguki cepat oleh bocah itu.

Bersama Hujan Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang