...
Pagi ini langit kembali mendung, angin berhembus membawa hawa dingin yang menusuk kulit, jalanan dan pohon terlihat basah karena rintik juga hujan semalam yang mengguyur bumi.
Di koridor sekolah terlihat seorang pemuda dengan Hoodie hitam yang melekat pada tubuhnya berjalan santai dengan kedua tangannya yang masuk ke saku Hoodie, raut wajahnya yang datar menatap sekeliling dan tanpa sengaja matanya kembali melihat perundungan yang entah sudah ke berapa kali, nafasnya ia hembuskan pelan sebelum langkah kakinya menuju ke arah pemuda yang kini tengah mencengkram kerah seorang pemuda lainnya.
Dengan santai Rakha merugoh saku Hoodie nya kemudian mengeluarkan sebuah rokok dan memberikannya pada langit, si perundung.
"Ini yang Lo mau? Ambil, terus pergi, jangan ganggu Agam lagi" ujar Rakha santai, bahkan langit mengerutkan dahinya heran melihat Rakha yang begitu berbeda, tidak seperti sebelum sebelumnya.
Rakha terlalu santai menghadapi kenakalan langit kali ini.
Dengan cepat Darren mengambil rokok yang ada di tangan Rakha sebelum membawa langit pergi, walaupun langit masih terdiam seribu bahasa, masih mencerna hal aneh yang baru saja terjadi.
"Udah ayook, kita cabut" ajak Darren pada langit yang kini ikut pergi bersama Darren entah kemana.
Rakha tersenyum simpul ke arah Agam.
"Makasih kak"
"Hmm, maafin langit ya,"
Agam mengangguk kecil, "kak, kalo boleh tau, kenapa langit berubah? Perasaan dulu sebelum kak Rakha pindah sekolah langit masih jadi anak baik, tapi saat kak Rakha kembali, langit jadi kayak gitu lagi".
"Hmmm, ada satu hal, yang gak bisa gue ceritain"
"Ooh, oke" Agam mengangguk mengerti, ia sudah terlalu ikut campur.
"Tapi selama gue nggak ada, langit gak buly Lo kan?"
"Enggak kak, malah dia baik banget, tapi setelah bareng lagi sama kak Darren, dia kembali pada setelan awal, bahkan lebih parah" jelas Agam.
"Oke, kakak paham, terimakasih udah mau jelasin"
Agam nyengir kuda "sama sama kak Rakha"
"Emm, gimana kalo sebagai balasannya gue traktir Lo siomay di tempat mamang gue ntar pulsek?" Tawar Rakha membuat wajah Agam seketika sumringah.
"Whoaaa, boleh kak!!" jawab Agam semangat.
________________________________________
Di sebuah kamar dengan nuansa pastel, Lusi mengigit bibir bawahnya, tangannya ragu untuk membuka surat berlogo rumah sakit di tangannya.
"Aku harus musnahin ini sebelum mas damar tau" gumam Lusi, namun ketika ia hendak memantik korek api, seseorang masuk ke dalam kamar, membuat Lusi panik dan melempar surat itu ke kolong ranjang.
"Mas? Kenapa balik lagi?" Tanya Lusi sedikit gugup.
"Berkasnya ada yang ketinggalan," jawab damar.
"O-oh, oh iya mas, tadi malam, kamu sama ayah ngomongin apa? Kenapa pulangnya larut banget?"
Damar melipat bibirnya kedalam, "tentang surat milik ibu" jawab damar singkat, namun Lusi sudah tau pasti apa maksudnya.
"Mas, lagian kan ibu sudah meninggal, surat seperti itu harusnya tidak perlu di permasalahkan kan?"
"Harusnya begitu, tapi kamu tau sendiri ayah orangnya seperti apa, hal sekecil apapun tentang ibu, pasti ayah perhatikan"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama Hujan
FanfictionNgga usah penasaran sama hidup gua, alur hidup gua itu ngga seru, seruan juga ngikutin alur rumput yang bergoyang.
