Bersama Hujan pt35

411 39 10
                                        

...

Rakha, menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, helaan nafas terdengar jelas di kamarnya yang hening.

Kelvin pergi mengantarkan sang ayah pulang kerumah utama, dan kemungkinan dia juga bakal menginap disana, sedangkan Rakha kini termenung diam menatap langit langit yang putih bersih.

Jam sudah menunjukkan angka lima, dan kini perutnya sudah meronta ingin di isi.

Sebenarnya Rakha sangat malas bangun untuk sekedar membuat makanan, namun ketika matanya berusaha memejam, perutnya tak bisa di ajak kompromi, dan ia pun lupa jika obatnya juga belum di makan.

"Haaah" helaan nafas kembali terdengar sebelum tubuhnya ia angkat, langkahnya ia bawa menuju ke dapur.

Rakha membuka kulkas dan mengeluarkan ayam, ia ingin memanggang ayam untuk makan malam.

Ketika Rakha tengah menyiapkan bahan bahannya, sebuah panggilan masuk, dan nama Farhan tertera di layar ponselnya.

"Halo ayah"

"Rakha, ayah dan Kelvin mungkin tidak pulang malam ini"

"Hmm, aku tau"

"Dan.."

Kalimat Farhan tergantung, dan terdengar helaan nafas disana.

"Kakekmu mengundang kamu makan malam di mansionnya, sumpah Rakha, ayah sudah berusaha menolak, tapi dia lebih berhak atas dirimu, ayah tidak bisa apa apa"

Ada jeda sebentar sebelum. Farhan melanjutkan.

"Apa kamu baik baik saja dengan itu? Atau aku perlu memberikan alasan lain untuk menolaknya?"

Suara Farhan terdengar panik.

Rakha hanya tersenyum tipis.

"Ga papa ayah, Rakha baik baik aja, ayah gak perlu khawatir"  ujar Rakha menenangkan seseorang yang ada di sebrang telfon meskipun tidak bisa memungkiri jika dia pun gusar, tapi Rakha adalah Rakha, yang tak akan membiarkan orang lain menghawatirkan nya.

"Jadi.. kapan aku kesana ayah?"

"Malam ini"

"Hmm, baiklah, kebetulan sekali aku jadi gak perlu repot repot masak" ujar Rakha seperti gerutuan.

Farhan tertawa dari sebrang telefon.

"Kalau begitu aku tutup telefon nya ayah"

"Oke, kabari aku jika ada apa apa"

"Siap komandan"

Dan tawa Farhan kembali pecah.

Rakha menutup panggilannya dan menatap nanar ponsel di tangannya yang sudah menghitam.

"Aduuuuh, ngapain sih itu si kakek  pake acara ngundang makan malam segala, aiiisshh.." Rakha mengusak rambutnya membuat tatanannya berantakan.

Rakha merasa gelisah sekarang, pasalnya jika dulu masih ada langit yang ada di pihaknya, namun sekarang keadaannya berbeda, langit sudah membencinya, dan di tambah Lusi juga damar yang memang terang terangan tak suka padanya.

Apalagi si kakek, bisa bisa Rakha kembali di sambut dengan pecahan  kaca, atau lebih parahnya dia di lempari pisau makan jika salah ucap nanti.

"Gak papa Rakha, lu kan masih punya delapan nyawa" ujar Rakha mantap sambil menepuk dadanya menguatkan diri sendiri.

"Apa perlu gue kirim wasiat ke Bagas?" Monolognya.

"Bego!!" Sahutnya pada diri sendiri karena merasa bodoh.

Bersama Hujan Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang