Bersama Hujan ep28

426 37 3
                                        

...

"Gue hujan"

Hujan berjalan menghampiri pemuda yang terduduk itu kemudian membatu nya berdiri tanpa menghiraukan tatapan tajam dari langit.

"Lo boleh pergi" ujar Rakha pada pemuda malang itu, kemudian pemuda itu langsung bergegas pergi tanpa menghiraukan tatapan tajam dari langit yang mengekori dirinya.

Langit memutar bola matanya malas ketika hujan menatap kedalam bola matanya.

"Lang.."

"Gak usah sebut nama gue!" Langit berjalan perlahan ke arah hujan dengan tangan terkepal.

"Gue bukan langit Lo lagi hujan, gue bukan adek Lo lagi, inget itu" ujar langit penuh penekanan dan melenggang pergi setelahnya.

Hujan hanya menghela nafas berat, setidaknya dia sudah menghentikan aksi langit yang bisa merugikan orang lain.

"Gue hanya perlu disini, gak perlu terlalu dekat, yang penting bisa lindungi Lo Lang" gumam hujan meski hatinya nyeri dengan kalimat yang langit lontarkan padanya beberapa menit yang lalu.

Hujan mengakui jika dia salah, tidak mementingkan perasaan langit pada saat itu, lebih memilih menuruti kata damar untuk pergi dari kehidupan langit, Demi masa depan anak itu.

Itu bukan egois, itu remuk, itu pengorbanan, pengorbanan seorang kakak yang lebih mementingkan masa depan adiknya, sedangkan dia tak memilikinya.

_____________________________________

"Ini gua gak ngimpi kan hu?" Herman terkejut dengan mata melebar melihat kedatangan hujan yang tiba tiba ada di pondok depan rumahnya.

Hujan terkekeh melihat reaksi ajaib dari mang Herman. "mamang pikir ini siapa? Hantu?"

"Masya Allah hu, gua kangen lu tong sumpah" ujar Herman sebelum tubuhnya ia tubrukkan ke tubuh hujan hingga sedikit terhuyung.

"Ahahahah" gelak tawa hujan menguar di pondok kecil itu mengundang penasaran bagi pemuda yang sebelumnya mendekam di kamar.

Bagas mengerutkan dahinya ketika mendengar samar samar ada suara yang ia kenali, dan tanpa pikir panjang tungkainya turun dari ranjang miliknya kemudian melangkah membawanya ke luar rumah dimana suara itu berasal.

Bibirnya tersungging ketika kedua matanya melihat wajah seseorang yang membuat hatinya sontak menyejuk.

Entah kapan terakhir kali ia melihat senyuman itu. Karena yang Bagas tau bentuk senyuman itu lenyap bersama rumah sang sahabat yang termakan api waktu itu.

"Hu.."

Hujan menoleh ke arah sumber suara sebelum sebuah suara menginterupsi.

"Lu milih balik?" Tanya Bagas yang hanya di balas anggukan dari hujan.

Bagas mengulum senyum sebelum melangkah mendekati hujan dan sang ayah yang hanya memperhatikan kedua putranya tersebut.

"Gue gak bisa terus lari, ada seseorang yang harus gue urus" ujar hujan yang mendapat kekehan dari Bagas.

"Langit?" Herman buka suara.

"Siapa lagi? Pemuda bodoh itu sudah hilang kendali" ucap Bagas dengan mengangkat kedua bahunya.

"Ini salah gue" lirih hujan.

Bersama Hujan Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang