...
Suara riuh di sebuah rumah sakit mengundang beberapa pasang mata yang ada di sekitar sana untuk melihat.
Keributan yang di ciptakan oleh tiga orang yang kini tengah di rundung rasa takut dan khawatir membuat beberapa orang berspekulasi mungkin mereka tengah kehilangan harta yang sangat berharga.
Teriakan, makian yang terlontar dari mulut seorang remaja yang terlihat berantakan membuat sebagian orang merasa iba.
Mereka sangat paham dan tau, karena raungan tangis sering mereka dengar di bangunan putih dengan bau khas obat obatan itu.
Penawar sudah kakek suntikkan ke dalam tubuh Rakha, namun tak ada reaksi apapun membuat mereka begitu kalang kabut.
Sebuah brankar dengan seseorang di atasnya melaju dengan sangat cepat dan berantakan, seperti wajah ketiga orang yang tengah mendorongnya sekuat tenaga seolah tengah berperang dengan waktu, seolah jika mereka memelankan laju rodanya maka orang yang ada di atasnya akan musnah.
Berbeda dengan raut panik dari mereka, satu wajah damai terlukis di atas brankar itu, damai dan lega seperti nafas pertama setelah tenggelam.
Barankar itu masuk kedalam ruangan pesakitan, meninggalkan tiga orang yang menggantungkan harapan pada tangan ajaib para tim medis.
Langit runtuh ketika pintu tertutup, lututnya di tekuk membentur lantai putih di bawah, menatap kosong ke depan. Kedua matanya seakan kehilangan sinarnya, Isak nya nyaris tak terdengar, bahkan tangis pun terasa sia sia.
Kepalanya tertunduk dalam, air matanya jatuh begitu saja, seolah tak memiliki tenaga untuk menghapusnya.
⏩⏩
Herman membereskan Jun dan komplotannya bersama Udin, juga beberapa teman temannya dulu yang pernah bergabung di geng mereka.
Polisi sudah meringkusnya, namun amarah masih saja tercetak di wajah sangar miliknya.
Otaknya tak bisa berfikir jernih melihat pemuda yang kini mungkin tengah di ambang kematian.
Langkah Herman tergesa meninggalkan kantor polisi setelah beberapa bukti tambahan ia serahkan untuk memberatkan hukuman Jun dan komplotannya.
"Lu mau kemana her?" Udin bersuara ketika Herman sudah tiga langkah menuju berbalik pergi.
"Gue bakal nyesel kalo gak bales damar" ujar nya dengan nada getir.
Udin tau, Herman sangat menyayangi Rakha seperti anaknya sendiri, dan kini Udin tak akan menghentikan Herman, ia melepaskan genggamannya pada Herman, karena damar pun pantas mendapatkan Ganjaran atas apa yang sudah ia perbuat pada anaknya sendiri.
"Jangan lupa sadar, kalo damar itu ayah Rakha" ujarnya pada Herman, bukan tanpa alasan Udin mengatakannya, ia hanya takut Herman lepas kendali, dan berakhir menyakiti damar lebih parah.
"Gue tau, dan gue tau batasan" ujarnya sebelum benar benar pergi dari sana tanpa menoleh ke arah Udin sekalipun.
Udin paham sifat Herman, dia memang kejam, tapi Herman paham betul dimana hati dan simpatinya dia tempatkan.
Udin tersenyum simpul.
"Lu berubah her semenjak punya langit dan hujan" ujarnya lirih seraya menatap punggung temannya yang sudah menghilang di telan jarak.
⏩⏩
Bugh!!
Satu pukulan.
Bugh!!
Dua pukulan.
Damar meringis menyentuh wajahnya yang terlihat memerah dengan darah di sudut bibir, sedangkan pelaku penyerangan hanyi terdiam dengan raut wajah datar tanpa rasa bersalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama Hujan
FanfictionNgga usah penasaran sama hidup gua, alur hidup gua itu ngga seru, seruan juga ngikutin alur rumput yang bergoyang.
