Plak!!
Satu tamparan mendarat di pipi damar, membuat pria itu mematung. Selama hidupnya, ia baru merasakan tamparan penuh emosi dari ayahnya.
"Kamu, keterlaluan damar, saya tidak pernah mendidikmu jadi orang yang brengsek" suara si kakek bergetar, wajahnya memerah, urat di pelipisnya menonjol karena emosi yang meradang.
"Pergi damar, pergi dari keluarga ini, setelah cucuku pergi, maka kamu juga pergi, saya tidak punya anak seperti kamu, saya hanya memiliki cucu seperti Rakha" ujarnya.
Damar terdiam, pipinya perih matanya memanas, namun hatinya berdenyut sakit.
"Ayah, Rakha kenapa?" Damar menatap sang ayah yang tertawa sumbang.
"Benar benar bajingan, bahkan keadaan putramu saja yang sudah sekarat kamu tidak tau?".
"Apa?" Damar sontak seperti orang linglung.
"Ayah, bukankah dia baik baik saja hidup bersama Farhan?? Damar sudah sekuat tenaga mendorongnya menjauh, tapi kenapa dia tetap celaka juga?" Tangis damar pecah, tubuhya meluruh bersujud di kaki sang ayah.
"Ampuni damar ayah, tolong bawa aku pada anakku" tangis damar pecah, begitupun sang ayah, mereka merasa gagal.
Hidup berkelimang harta, dan memilki segalanya tak bisa menjamin jika mereka tak akan merasa kehilangan.
Mereka hancur, karena mereka belum sempat memperbaiki hati yang rusak oleh ke egoisan mereka.
Tuhan memang adil.
Lusi di tangkap polisi bersama dokter syam.
Jun dan Roy juga di tangkap polisi Karena Herman dan Udin.
Semua kebohongan, penghianatan sudah mendapatkan balasan, tapi kenapa Rakha justru di ambang kematian? Apakah ini harga yang harus mereka bayar?
Tak ada ampunan untuk orang orang berbau darah seperti mereka.
Apakah mereka masih bisa berkata tuhan itu adil?.
Oh tentu saja, karena tuhan lebih rela membawa Rakha pergi dari dunia yang penuh kekejaman dan rasa sakit.
⏩⏩
Satu Minggu berlalu, kondisi Rakha tak lebih baik, bahkan pernah di satu malam, langit mendapati Rakha yang muntah darah sendirian di bangsal miliknya.
Kini langit tengah menyeka badan Rakha, di bantu Bagas juga Kelvin.
Mereka senantiasa menjaga Rakha bergantian.
Tapi kali ini mereka menjaga Rakha bersama karena memang tengah libur sekolah.
Setelah selesai menyeka tubuh Rakha, langit membuang air yang berada di baskom ke toilet.
Sedangkan Bagas tengah membantu Rakha mengancing baju.
Di sebuah meja yang berada di ruangan itu, Kelvin tengah menyiapkan makanan yang akan Rakha makan.
"Bang, makan dulu" ujar Kelvin sambil membawa mangkok berisi bubur yang masih mengepul.
Rakha tersenyum lirih, warna wajahnya sudah pudar.
"Gue mau pulang" lirih Rakha membuat dua remaja disana terdiam.
"Ngga boleh bang, bang Rakha harus mendapatkan perawatan lebih"
"Gue mau pulang" ujarnya lagi nyaris tidak terdengar.
"Kita pulang" sahut langit yang kini sudah berada di ambang pintu.
Dengan senyuman getir langit menyentuh pundak Bagas.
"Kita akan bawa bang Rakha pulang kan?" Remasan tangan langit di bahu Bagas menandakan jika anak itu juga tengah menahan rasa yang berusaha keras ia tekan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama Hujan
FanfictionNgga usah penasaran sama hidup gua, alur hidup gua itu ngga seru, seruan juga ngikutin alur rumput yang bergoyang.
