...
Brakk!!
Herman membanting helmnya ke bawah, menciptakan suara yang nyaring, mampu membuat beberapa orang yang ada disana terdiam.
Jun dengan wajah yang babak belur terlihat terengah melihat herman ada disana.
Mata Herman menelisik, mengedarkan pandangannya hingga netranya melihat keadaan langit, namun yang membuat emosi Herman semakin naik ia melihat hujan yang tengah meringis kecil menahan sakit.
Mata tajam Herman mengarah ke Jun.
"Bangsat!! Lawan lu gua anjing!!" Tanpa babibu Herman langsung menghajar Jun dengan tangannya sendiri.
"Sepuluh tahun Jun, sudah sepuluh tahun gue nggak bantai orang," mata Herman sudah memerah, dengan. Air yang menggantung di kelopak mata.
Bukk!!
Herman kembali memukul Jun telak, dan kini Jun mundur beberapa langkah sambil meringis menahan sakit.
Jun terkekeh, "sepuluh tahun lalu ya? Bukannya itu waktu Baron mati?"
Tangan Herman mengepal erat.
"Jangan berani berani nya lu nyebut nama Baron dengan mulut busuk Lo" geram Herman kemudian kembali menyerang Jun.
Jun tak bisa lepas dari cengkraman Herman, disana Herman terlihat kesetanan.
"Lang!!" Teriak Udin yang baru datang.
"Lu mending bawa Rakha pergi, kasih dia pertolongan, mereka biar kita yang urus" ujar Udin.
"Yakin mang?"
"Lu lupa kalo kita preman?".
Langit mengangguk terpatah sebelum memapah Rakha.
Karena tubuh Rakha yang tiba tiba melemas membuat langkah langit sedikit tersendat.
"Bang... Lo harus kuat" gumam langit, langit tau ia sangat telat untuk memberikan obatnya pada Rakha.
Uhuk!!
Rakha terbatuk berat membuat langit berhenti melangkah.
Brukk!!
Tubuh Rakha terjatuh dengan tangan mencengkram dadanya erat.
"Aaaaarrrrgggggghhhhhhhh" erangan yang keluar dari mulut Rakha membuat langit terperanjat kaget sekaligus takut.
"Bang? Lu kenapa?" Tangan langit bergetar menyentuh bibir Rakha yang memerah karena di gigit.
Tak berselang lama, tiba tiba polisi datang, sedangkan langit tak memperdulikannya, karena yang ia pikirkan sekarang hanya keadaan sang kakak.
"Uhuk!!" Rakha kembali terbatuk, dan kini beserta darah yang keluar.
"B-bang??"
Seorang polisi menghampiri langit dan bertanya mengenai keadaan Rakha, namun otak langit se akan ngeblank, ia tak bisa berfikir jernih, tak bisa memikirkan apapun, termasuk menjawab pertanyaan polisi tersebut.
"Saya sudah panggilkan ambulance" ujar salah satu polisi, sedangkan anggota yang lain tengah menuju ke arah perkelahian yang terjadi.
Langit Menangis melihat Rakha yang sudah tak berdaya di depannya, bahkan mulut lelaki itu tak berhenti mengeluarkan darah segar, bahkan matanya kini sudah sayu.
"Ngga bang!! Lo ngga boleh tidur, kita tunggu ambulance nya ya, Lo harus kuat, Lo ga boleh ninggalin guaaa". Teriak langit histeris.
Rakha yang berusaha mempertahankan kesadarannya pun menoleh ke arah langit yang kacau dengan wajah banjir air mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama Hujan
FanfictionNgga usah penasaran sama hidup gua, alur hidup gua itu ngga seru, seruan juga ngikutin alur rumput yang bergoyang.
