End

1.4K 98 32
                                        

Keesokan harinya, mereka pergi ke suatu pantai menggunakan mobil baru yang diberikan oleh Jayden untuk Zelvin. Zelvin terus menerus diam, sedangkan Abian menyetir mobil itu.

Ketiga anaknya selalu saja bermain game di perjalanan. Zelvin diam sambil menatap jalanan hingga Abian memberhentikan mobilnya di lampu merah.

Abian menatap Zelvin yang diam dari tadi pagi, ia pun mengelus lengan sang istri. Zelvin yang merasa tangan Abian mengelus lengannya itu pun menoleh.

"Kenapa, Sayang?" tanya Abian. Zelvin memegang tangan Abian yang berada di lengannya.

"Gak papa kok, cuman mikir ternyata kasih sayang Papi ga hilang buat aku. Dia masih anggap aku kayak anak kecil" jawab Zelvin.

Saat lampu menyala hijau, Abian pun melajukan mobilnya. "Kamu anak satu-satunya, Mbul. Ga mungkin klo Papi bakal lupain anak semanis kamu"

"Aku ga kebayang klo orang tua ku bakal ninggalin aku buat selamanya. Aku aja masih butuh in mereka" lirih Zelvin, matanya sudah mulai berkaca-kaca.

Abian mengusap air mata Zelvin dengan tangan kirinya, lalu mengusap kepalanya. "Ga usah terlalu dipikirin ya, sekarang kan lagi jalan-jalan. Kamu harusnya happy dong!"

Zelvin tersenyum kecil mendengar suara Abian yang bersemangat itu. Kemudian ia menjawabnya dengan anggukan kepala.

Sesampainya di pantai, Zelvin keluar lebih dulu dan berlari meninggalkannya anak dan ketiga anaknya. Sudah lama ia tak pergi ke pantai, klo ke gunung ia sudah kapok.

"PAPAA! JANGAN LARI!" pekik Bryan yang hendak mengikuti Zelvin dari belakang.

Tetapi Zelvin terlalu bersemangat dan bahagia di tempat ini. Untung saja tempat ini tidak terlalu ramai, jadi Zelvin bisa berkeliaran ke sana kemari.

Zelvin mulai membasahi kakinya dengan air laut, ia tak peduli jika celananya basah lagipula ia juga membawa baju ganti.

Zelvin menoleh ke arah suami serta anaknya yang sedang melihatnya bermain air. Ia pun berlari menghampiri mereka berempat. Zelvin menarik tangan Abian dan juga Terry untuk mengikutinya bermain air. Tak lupa Zelvin kembali dan menarik tangan Kai dan Bryan juga.

Mereka berlima terlihat sangat bahagia terutama Zelvin. Jika Zelvin merasa senang, disitulah kebahagiaan keluarga mereka muncul.

"Yey!" pekik Zelvin sambil mencipratkan air ke Abian.

Abian pun ikut menciprat-cipratkan air ke Zelvin serta ketiga anaknya. "Hayoloh basah!" ejek Abian.

"Ih! Jadinya basah kuyup" gerutu Zelvin saat Abian menariknya ke dalam air. Ketiga anaknya juga ikut menyebur ke ombak kecil itu.

"IH ABANG!" jerit Zelvin, ketika Bryan sang anak pertama itu tiba-tiba memeluknya. Padahal mereka berdua sama-sama basah kuyup.

"MAU PELUK JUGA!" Kai berlari dan memeluk Zelvin. Begitu pula Terry juga ikut.

Abian memotret sang istri dan ketiga anaknya. Kehangatan keluarga ini tak bisa di lupakan. Sedih dan senang selalu mereka curahkan bersama serta selalu mencari solusi, itu masih terkadang sih.

"Kalian sayang sama Papa kan?" tanya Zelvin sambil membalas pelukan ketiga anaknya.

"Sayang kok" jawab Terry.

"Sayang banget malahan" jawab Kai dengan tersenyum.

"Sayang sih, cuman ga bisa Bry nikahin" jawab Bryan. Zelvin heran, Bryan itu mulutnya ngikut siapa sih? Kok bisa pikirannya pengen nikahin dirinya melulu.

Padahal anak kedua dan terakhirnya itu sebenarnya juga sama seperti Bryan. Tetapi mereka bisa di bilang hampir tak pernah bilang ingin menikahi Zelvin.

Abizel Family (SoobJun)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang