THE MAZE RUNNER
Bahkan jika dia benar-benar Enver, apa yang salah dengannya?
Mengapa dia bisa ada disana dengan sebilah kayu tebal di tangannya?
Ah, tidak, bukan seperti itu. Yang benar adalah bagaimana bisa gadis itu berada disana?
Atensi yang terserap seketika membuat ketakutan yang menyelimuti mereka menjadi semakin tidak terelakan. Fakta bahwa gadis itu ada didepan mereka setelah jelas-jelas kemarin terjebak didalam labirin. Rasanya sangat mustahil jika tidak membuat bulu kuduk merinding.
Mungkinkah itu hantu?
"ENVER!!"
Teriakan yang tercekat diakhir membuatnya terdengar sangat menyakitkan. Namun terima kasih, karena berkatnya, semua orang sadar bahwa dihadapan mereka manusia sungguhan. Mau bagaimanapun rasanya sangat aneh ada hantu di siang hari.
Kerumunan manusia itu kini menyebar perlahan, mereka masih siaga dengan segala kemungkinan kayu besar itu melayang.
Tubuh gadis itu terhenti seperti robot yang kehilangan fungsi. Dia tidak berkedip sedikit pun membiarkan angin mengibaskan rambutnya kesana kemari. Rasanya sangat ingin mengulurkan tangan untuk merapihkan surai coklat kemerahan yang berantakan. Belum lagi wajah yang nampak sangat lelah itu. Tampang menyedihkan dan menakutkan berpadu tidak seimbang.
Minho menangkap tubuh yang perlahan tumbang dengan segala kekuatan tubuhnya. Perlahan ia mengusap surai sang gadis hingga memperlihatkan wajahnya. Astaga, ekspresi macam apa itu?
Wajah cantik itu tapak sangat pucat, bibirnya membiru juga tubuhnya terasa sangat dingin seolah kehangatan yang wajar bagi manusia telah lama meninggalkannya. Minho seketika tersadar dan membaringkan Enver diatas rumput. Ia merasa tubuhnya perlahan kehilangan nyawanya saat berusaha keras mencari titik nadi untuk memastikan bahwa gadis ini benar-benar hidup.
Diantara panas yang memancar dari telinga hingga puncak hidungnya, kepanikan yang tidak terkendali membuatnya kesulitan merasakan nadi Enver di pergelangan tangannya. Indranya menjadi semakin tumpul ketika hawa dingin yang merambat dari kaki akhirnya sampai pada jemarinya. Minho kesulitan bernafas hingga membuat Gally yang berada tidak jauh dari sana terpaksa segera mendorongnya menjauh.
Orang lain disekitar mereka terkejut ketika Gally mengambil tindakan itu. Kini dia mengambil alih, berusaha tenang agar tidak bertindak bodoh seperti Minho.
Sesaat ketika akhirnya ia mengetahuinya, nafasnya yang tanpa sadar ditahannya akhirnya dilepaskan. "Tenanglah, dia masih hidup." Ujarnya kepada semua wajah yang menatap dengan rasa penasaran yang begitu pekat.
Helaan nafas lega terdengar dari seluruh arah. Kini mereka akhirnya bisa lebih tenang untuk membantu Thomas yang masih terjebak dibawah tubuh Ben yang tumbang. Beberapa orang mencoba mengangkat tubuh Ben. Mereka sungguh terkejut karena anak laki-laki ini tampak lebih berat dari yang terlihat.
"Sialan, kita harus mencegahnya makan kalau sudah sadar." Ceplos seseorang yang memapah Ben. "Sialan, kamu benar." Sahut yang lain.
Keduanya segera membawa Ben menuju ruang kesehatan sementara yang masih tertinggal membantu Thomas bangkit dari posisinya. Anak laki-laki itu terdiam seperti masih terguncang, dan Alby tidak akan pernah melepaskan ekspresi seperti itu dari penglihatannya. "Alright, lets get back to work." Ujarnya sambil berusaha membubarkan semua orang.
Mereka menurut dan pergi. Hanya tersisa beberapa orang saja dan Alby menatap mereka seolah sedang mengucapkan hal yang sama. Meskipun tampak enggan mereka akhirnya benar-benar pergi. Newt dan winston membawa Minho menjauh, Gally menggendong Enver ke ruang kesehatan sementara Thomas masih terduduk melamun seolah dia terkurung dengan dunianya sendiri, sepenuhnya terpisah dengan ruang dan waktu di masa kini.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE
RandomLOVE // THE MAZE RUNNER Alih-alih Teresa, bagaimana bila ada gadis lain yang dikirimkan terlebih dahulu ke Labirin? Seorang gadis yang sengaja diciptakan untuk dibuktikan kekuatannya. Terlihat biasa saja dari luar tapi jelas tidak biasa untuk kapas...
