Into The Maze

100 11 3
                                        

Into the Maze

Keputusan itu menjadi kesepakatan yang dipaksakan. Meskipun sempat terjadi perdebatan panjang pada akhirnya kemahiran negosiasi menenangkan keributan. Dengan beberapa syarat dan ketentuan pada akhirnya ketua mereka yang tidak pernah berlari ke labirin diizinkan untuk berangkat bersama pelari handal mereka.

Untuk sementara jadwal patroli labirin dihentikan karena beberapa hal darurat. Salah satu yang menjadi pertimbangan adalah tentang misteri bagaimana Ben bisa keluar tanpa melewati pintu depan. Dan dia kembali dalam keadaan tubuh tersengat, hal yang sudah tidak pernah terjadi sejak dua tahun belakangan. Beruntung kondisinya masih belum parah, kendati demikian virus itu pasti akan menyebar cepat atau lambat. Ketika kondisi mengerikan itu tercapai maka tidak akan ada jalan keluar. Pada akhirnya prosedur itu harus dilakukan demi keselamatan semua orang.

Mungkinkah waktu mereka sudah dekat?

Sekembalinya dari hutan, Minho mengendap mendekati gubuk ruang kesehatan. Matanya menyelisip kedalam menatap dari celah dinding kayu yang tidak rapat untuk melihat keadaan gadis yang kembali dalam keadaan setengah sadar. Ia terbaring bagai putri tidur setelah seseorang mengganti pakaiannya.Kesadaranya yang belum kembali, keadaan menyedihkan membuat hati Minho teriris, sedih melihat bagaimana kaki Enver terbalut kain perban yang bahkan masih basah karena darahnya terus merembes keluar. Rasa bersalah itu seperti beban yang menekan kewarasan.

"Kenapa selalu kau yang mengorbankan diri?" Bisiknya pelan diantara helaan nafas yang terdengar penuh sesal. "Padahal kau bisa membagi beban itu bersamaku.

"Segitunya tidak percaya? Atau kah kamu berpikir untuk mengemban semuanya sendiri karena takut merepotkan? Aku tidak mengerti, En."

Helaan penuh sesal terdengar sekali lagi. Lebih sakit, lebih menyesakkan ketika sorot matanya menangkap wajah pucat milik seseorang yang terbaring lemah diatas ranjang. "Besok kami akan pergi ke labirin, En, Kuharap kami menemukan sesuatu. Entah sesuatu yang membuatmu menjadi seperti ini atau sesuatu yang membuat Ben seperti itu.

Sampai saat itu, bertahanlah. Karena jika pada akhirnya tidak ada petunjuk apapun aku sungguh berharap kau akan menyambutku ketika aku kembali. Jadi kewarasanku mungkin akan sanggup bertahan lebih lama."

Angin malam itu berhembus lembut membawa hawa dingin. Halus menusuk sampai merinding, tetapi meski demikian, Minho tetap berdiri disana. Berharap kalau-kalau gadis itu akan bangun dari tidurnya. Karena rasanya sudah sangat lama sejak terakhir kali Minho melihat mata violet cerah milik gadis yang terbaring diatas sana.

Ketika pupilnya berbinar, Minho merasa dia akan sanggup menghadapi seluruh tanda tanya maupun kenyataan bahwa mereka mungkin tidak akan pernah mampu keluar dari labirin. Kenyataan bahwa mereka mungkin akan membusuk sebelum sempat menemukan petunjuk akan jalan keluar dari liukan labirin yang berubah setiap malam.

Belum lagi keberadaan mahluk hibrid laba-laba besar dengan ekor menyerupai sengat kalajengking. Hewan mengerikan yang menjadi dinding penghalang diantara jalan keluar yang mungkin belum pernah terjamah sebelumnya. Keputusasaan memuncak seiring waktu yang berlalu dalam pencarian tanpa akhir.

Seketika emosi kemarahan meledak dalam diri Minho, kesabarannya jelas telah habis dengan segala gejolak selama hidup di labirin. Mungkin ini memang akhirnya, kebenaran akan terungkap setelah mereka menemukan celah yang tersembunyi itu.

Sekali lagi, matanya beralih pada wajah pucat sang gadis yang masih belum tersadar. Matanya menutup menyembunyikan pupil keungunan yang begitu menawan. Demi Tuhan, Minho sanggup merelakan apapun demi melihatnya sekali lagi.

"Tunggulah sebentar lagi, En." Bisiknya pelan, lalu kakinya melangkah mundur dari sana. Pergi menjauh dari gubuk ruang kesehatan menuju Hammock yang menggantung diantara dua pohon. Disanalah semua orang beristirahat sekarang. Terlelap dalam mimpi akan kebebasan. Akan dunia luar yang menjadi misteri bagi ingatan yang direnggut dengan paksa dari mereka. Kejahatan tak termaafkan, termasuk yang paling keji yang mampu dilakukan oleh seseorang kepada orang lain demi kebaikan yang lebih besar.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 27, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang