ENVER

174 17 0
                                        


Masa depan adalah misteri penuh tantangan yang menggugah adrenaline. Tetapi masa lalu jauh lebih menyenangkan untuk dipelajari. Segala kebenaran yang menjadi akibat dari permasalahan hari ini tersimpan dibelakang sana. Benar, bahwa masa lalu harus tetap dibelakang karena waktu terus berjalan. Tetapi kadang, kita harus menoleh kebelakang sesekali untuk melihat apa yang kita lewatkan. Mungkin sebuah celah atau ujung awal dari benang merah.

Setidaknya itulah yang Enver pikir sesaat setelah ia terbangun dan mendapati pintu depan labirin terbuka sangat pelan tanpa menimbulkan suara. Seolah mereka sedang membantu Enver menjaga rahasianya. Enver berpikir dirinya sedang berhalusinasi saat mendapati semua orang terbaring berserakan diatas padang rumput seperti ubi yang sedang di jemur. Tetapi rupanya mereka memang terbaring di sana tanpa alas apalagi selimut. Semuanya tertidur dengan pulas dengan nafas mereka yang terdengar tenang dan teratur. Gadis itu tidak berpikir untuk membangunkan mereka. Entah mengapa kesadaran membawanya melangkah meninggalkan teman-temannya dibelakang. 

Kaki Enver terus melangkah melewati rerumputan yang empuk dan sedikit basah oleh embun. Terus berjalan melalui dapur menuju hutan. Enver tidak begitu yakin kemana dirinya akan dibawa, gadis itu hanya menurutinya tanpa protes. Hingga setelah beberapa saat, Enver sampai pada sisi lain dinding yang hampir ia lupakan karena sudah lama tidak didatanginya. Enver kembali duduk lalu terlelap seolah dirinya adalah robot tanpa nyawa. 

+++

Hanya gelap yang ada didalam sana. Tiada apapun seolah Enver hanyalah sebuah kesadaran tanpa raga yang terjebak dalam ruang hampa. Entah memang dirinya tidak memiliki raga tetapi Enver merasa bahwa ia terus berpindah seolah memiliki kaki dibawah sana. Enver berserah diri saja dan membiarkan dirinya terhanyut dalam arus yang tidak dapat dilihatnya. Terus bergerak tanpa arah tujuan didalam ruang gelap yang mengerumuninya.

Setelah beberapa saat memandangi ruang kosong yang seolah tanpa batas, tiba-tiba mata Enver menabrak cahaya terang yang sangat menyilaukan hingga membuatnya hampir buta. Mungkinkah ini seperti sebelumnya? 

Disaat itulah Enver tersadar bahwa ini adalah ingatannya. Ingatan Enver kecil yang baru selesai menjalani tes rutin dan pengambilan darah secara berkala. Saat itu ia berumur sembilan tahun.

"Kerja bagus, Alena, kau bisa bergabung dengan yang lain." Seseorang dengan jubah putih itu menunduk kepadanya. Ia adalah wanita yang tersenyum lebar sambil memperlihatkan telapak tangannya seolah menunggu Enver untuk melakukan high five. Tetapi mendapati sang gadis yang terdiam kebingungan, wanita itu akhirnya meraih kedua tangan Enver dan meremasnya dengan lembut. "Kau melupakanku lagi?"

Enver tidak menjawab, gadis itu masih menatap wajah asing yang terlihat kurang begitu jelas. Hingga akhirnya ia melihat tanda pengenal yang tersemat pada dada kanannya. "Tidak, Dokter Marry, terima kasih sudah merawatku dengan baik."

Marry tersenyum ketika melihatnya. Ia kemudian membantu Enver turun dari ranjang medis dan menuntunnya keluar. Disanalah seorang pria dewasa dengan pakaian yang berbeda sedang menunggunya. "Dia bisa melanjutkan latihannya, Kapten Hanliem."

Enver menatap wajah pria itu lalu menyerahkan tangannya seolah Enver minta digandeng menuju tempat pelatihannya. Kapten Hanliem yang menatap itu lalu menerima uluran tangan si gadis kecil kemudian berpamitan dengan Marry. Enver juga melambaikan tangannya sambil meninggalkan gedung unit medis. 

Perjalanan mereka selanjutnya cukup jauh karena gedung pelatihan dan asrama dengan gedung medis berada pada tempat yang berlawanan. Perjalanan kembali ini akan melewati lorong utama dengan ruangan-ruangan yang sangat banyak hingga Enver tidak yakin apakah cukup menghitung semuanya dalam sehari. Jadi gadis itu hanya memperhatikan sekenanya hingga langkahnya terhenti pada salah satu ruangan yang cukup besar. Di dalam sana Enver melihat wajah-wajah asing, mereka sepertinya adalah anak-anak yang di evakuasi dari bencana topan minggu lalu. 

LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang