A Whisper Hope

162 15 2
                                        

A Whisper Hope


Cahaya pertama saat fajar segera membangunkan para pemalas yang terbaring berserakan diatas hamparan rumput di desa. Pesta semalam sangat menyenangkan, entah pantas disebut sebagai pesta sambutan atau perjamuan di pemakaman. Hangatnya cahaya matahari mengejutkan para penghuni Glade yang akhirnya bisa terlelap setelah semua kejadian kurang menyenangkan. 

Saat akhirnya terbangun, semua orang terkejut mendapati dinding labirin telah terbuka. Lebih terkejut lagi melihat Minho yang berdiri memaung ditengah pintu labirin dengan tangan berlumuran darah, entah darah milik siapa itu. Semua orang yang penasaran hanya mampu memandang, kemungkinan buruk akan kehilangan teman seperti hampir dapat dipastikan.  Dari wajah pucat yang tampak kecewa dan sedih, semua orang seolah mampu memastikan bahwa Minho tidak menemukan Enver di dalam sana dan darah yang ada ditangannya adalah milik sang gadis malang yang mungkin benar-benar telah tiada. 

Wajah Minho terlihat sangat pucat seperti mayat. Matanya memerah dan sangat sembab seolah dia telah menangis semalaman. Serta kakinya terliha lemas ketika melangkahkan kaki meninggalkan pintu labirin. 

Minho akhirnya berjalan perlahan menuju sisi lain dinding. Menuju 'makam' teman-teman mereka yang lain. Tempat dimana semua nama orang yang telah gugur di ukir. Mungkin akhirnya Minho harus benar-benar memahat dengan tangannya sendiri setelah yakin bahwa gadis itu benar-benar telah tiada. Inilah akhirnya.

"Minho, stop!" Gally berteriak saat jarak Minho dengan dinding itu menjadi semakin dekat. Tetapi teriakan itu tidak diindahkan hingga Gally harus berlari untuk menghentikannya. "Aku bilang berhenti!"

Minho tertarik kebelakang, wajahnya yang sangat kacau akhirnya berhadapan dengan Gally yang terlihat sama lelah seolah belum tidur semalaman. "She is gone," Minho berbisik lirih.

Kepala Gally menggeleng cepat, tidak terima dengan ucapan Minho kepadanya. "She is out there, somewhere," ujar Gally sambil tangannya menyentuh bahu Minho

"SHE IS GONE, GALLY!!" Teriak Minho pada akhirnya. Tangannya yang berlumuran darah itu mencengkeram baju Gally sangat kuat hingga membuatnya terguncang. Mata Minho menatap Gally sangat tajam seolah ia siap untuk mematahkan leher lawannya. Tetapi ia segera tersadar bahwa tindakannya tidak dapat dibenarkan. Bahwa Gally juga sama tidak berdayanya dengannya. 

Tatapan mata yang penuh penyesalan itu menunduk sedih ketika menyadari ketidakberdayaannya. "Aku tidak menemukan apapun, Gally." Jelas Minho disaat ia menjadi lebih tenang. Kakinya yang kehilangan tenaga membawanya jatuh berlutut dihamparan rumput hijau. "Tidak ada apapun. Tidak potongan bajunya, tidak perlengkapan larinya, bahkan sehelai rambutnya sama sekali tidak ada. Yang ku temukan hanyalan genangan darah yang hampir sepenuhnya mengering." 

Gally menghela nafas dengan keras. Tubuhnya berputar membelakangi Minho saat mendengarkan penjelasan itu. Meskipun Gally tidak ingin mempercayainya. "Dia mungkin masih ada disana. Di suatu tempat," Gally berbisik lirih, sangat pelan bahkan telinganya saja tidak mendengar. 

Beberapa orang mulai berkumpul seiring matahari bergerak naik. Mereka melingkari Minho yang masih berlutut sambil memandangi tangannya yang berlumuran darah. 

Seperti reaksi Gally yang mendesah kesal mendengar penjelasan Minho, semua orang bereaksi sama. Berputar dengan sedih sambil memandang kesana kemari. Bahkan si anak baru yang berdiri tak jauh dari semua orang mampu merasakan getaran tidak menyenangkan akibat emosi negatif yang terkumpul begitu banyak.

"Siapa sebenarnya Enver ini, Newt? Kenapa semua orang bersedih sebegitunya."

Newt mengigit jarinya sedikit, lalu berputar membelakangi Thomas yang lagi-lagi bertanya. Pada pagi seperti ini Newt tidak ingin menjawab pertanyaan apapun. Tidak untuk apapun yang membuatnya pusing sejak pertama kali dia datang ke dalam kekacauan yang tiada akhir. Seolah Newt dilemparkan dalam lingkaran setan yang memusingkan.

LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang