The Trigger

124 10 0
                                        

Setiap hal yang pernah kita lihat dengan mata terbuka selalu memiliki pasangan yang membersamainya. Sesederhana pintu masuk dan keluar. Sisi kanan dan sisi kiri. Bagian depan dan belakang. Lalu kita sebagai manusia yang terbagi atas laki-laki dan perempuan. Hal ini juga sejalan dengan fakta mutlak yang dibenci oleh semua orang bahwa setiap pertemuan akan memiliki akhir yang kita panggil sebagai perpisahan. 

Beberapa tahun telah berlalu sejak mereka melakukan pertemuan terakhir di Aula Tengah. Dan sebagaimana yang telah dijanjikan waktu hampir berakhir tetapi tidak ada perubahan menuju akhir seperti yang diharapkan. Bahkan setelah kedatangan Alena di Labirin A serta Aris di labirin B beberapa bulan setelahnya, tidak ada getaran akhir yang mereka harapkan akan terjadi dalam waktu cepat. Semuanya tetap berjalan seperti biasanya bahkan hingga hari ini. 

Bagi seseorang yang selalu memantau seluruh adegan nyata didalam layar, Thomas mulai merasa jengah. Dia sudah merasa sangat cukup dengan semua trial and error yang dia lihat dari monitor yang ada didepan matanya. Thomas merasa bahwa ia sudah muak dengan segala rutinitas yang sama persis itu. Dia harus menyelesaikan semua ini sebelum dirinya menjadi semakin gila. Untungnya shift kerjanya akan berakhir dalam dua jam jadi ia mungkin harus menahan sedikit lagi sebelum bisa keluar dari ruang kerja pengap yang penuh dengan suara denting dan layar-layar monitor yang terus berkedip. 

Mata Thomas mencoba untuk fokus pada layar monitornya yang menampilkan adegan bagaimana Newt dan Gally yang bersebelahan membawa box dari elevator  supply  yang baru dikirimkan. Tidak ada yang menarik diantara keduanya, mereka bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun hingga membuat Thomas mulai mengantuk. Akan tetapi, pandangan mata seseorang membuatnya merinding hingga Thomas yang mulai merasa risih akhirnya mengalihkan pandangan matanya dari sana. Iris coklat gelapnya menangkap presensi mata biru seseorang dari sebrang sana, menatap Thomas dengan datar seolah mereka tidak pernah saling mengenal. Keduanya hanya saling menatap hingga salah satunya memutuskan pandangan dan kembali pada pekerjaannya yang terabaikan sebentar. 

krriing... krriiing....

Denting pergantian shift akhirnya terdengar setelah dua jam yang membosankan. Semua orang yang terdiam bagai patung mulai sibuk merapihkan barang bawaan untuk bergantian dengan orang lain yang akan mengambil alih. Termasuk Thomas yang segera berdiri dan menyampirkan jaket labnya di lengan lalu meninggalkan ruangan. Pemuda itu tidak akan membuang waktu untuk berlama-lama didalam ruangan redup yang sangat menyiksa kewarasannya itu. 

Terus saja bergerak tanpa tahu seseorang masih memperhatikannya. Langkah kaki Thomas bergerak cepat meninggalkan ruangan sesaat setelah akhirnya ia berhasil keluar. Hari ini ia akan pergi ke ruang uji untuk melihat perkembangan para subjek labirin yang hari ini akan dikirimkan. Meskipun bukan Thomas yang akan menjalankan prosedur, ia akan tetap diizinkan untuk melihat prosesnya karena Thomas adalah salah satu otak yang merancang uji labirin. 

"Thomas" 

Suara seseorang akhirnya berhasil menghentikan langkah kakinya untuk melihat siapa yang baru saja memanggilnya. Rupanya itu adalah Teresa dengan wajah datar tak terbaca seperti biasa. Gadis itu berpakaian rapih seperti biasa, dengan rambut coklat yang terikat rapih kebelakang seperti biasa, serta seragam biru mereka seperti biasa. Tetapi Thomas tidak pernah bosan melihatnya, atau malah dia sangat menyukainya. Dua orang  itu saling mentap untuk beberapa detik selanjutnya. 

Terlalu lama hingga canggung yang merangkak tipis akhirnya menjadi tak tertahankan seiring berjalannya waktu. Thomas yang terdiam, Teresa yang masih menatap dengan raut wajah yang datar. Tolonglah katakan sesuatu.

"Teresa" 

Ah benar, Thomas belum menjawab panggilan gadis itu sebelumnya. 

"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang