Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali Yin membuka pintu kamar itu. Kamar berwarna putih gading dengan tirai tipis yang kini mulai memudar warnanya. Matahari sore menyelinap dari celah jendela, menebarkan debu yang menari perlahan di udara. Seolah waktu tak pernah benar-benar bergerak sejak kepergian Sunny.
Yin melangkah masuk, pelan. Seakan khawatir jika langkah kakinya terlalu berat, kenangan-kenangan di dalam ruangan itu akan pecah berantakan.
Kamarnya masih sama. Bantal bergambar hati yang dulu menjadi favorit Sunny masih terletak rapi di atas ranjang. Di meja belajar, tumpukan buku kuliah, kotak pensil hitam dengan pita kecil diatasnya, dan gelas minum berwarna ungu muda milik Sunny masih berada di tempatnya. Yin duduk perlahan di tepi ranjang. Dia diam cukup lama, hanya memandangi seluruh ruangan, seolah takut satu kedipan mata akan menghapus semua jejak adiknya.
Tangannya mengusap pelan kasur Sunny, lalu meraih boneka beruang kecil yang dulu selalu Sunny peluk saat tidur. Perlahan, ia menempelkan boneka itu ke dada. Air matanya jatuh begitu saja.
Saat membuka laci kecil di samping tempat tidur, dia menemukan sebuah amplop berwarna krem, dengan tulisan tangan rapi yang tak asing di bagian depannya:
"Untuk phi Yin. Buka saat kau sudah siap."
Tangan Yin gemetar. Butuh beberapa detik sebelum dia berani merobek tepi amplop dan mengeluarkan kertas di dalamnya.
Lalu dia membacanya...
-----
Untuk phi Yin...
(jangan dibaca jika kau belum siap. Tapi jika kau membaca ini… berarti kau sudah berani menghadapi luka di hatimu. Dan aku bangga sekali.)
Hai, phi…
Kalau kau membaca ini, mungkin aku sudah tidak bisa lagi memelukmu sambil menonton film horor di kamar, atau merengek memintamu memasak telur dadar kesukaanku.
Mungkin aku sudah tidak ada di dekatmu sekarang…
Phi Yin, kau tahu tidak?
Kau itu penyelamatku.
Kau rumahku, pelindungku, orang pertama yang kucari saat aku takut, sedih, atau senang.
Tapi sebelum aku bertemu denganmu, jauh sebelum kita tinggal bersama dan menjadi keluarga…
Ada seseorang yang dulu juga menjagaku.
Aku memanggilnya phi Bright.
Dia bukan kakak kandungku
Dia seseorang yang selalu ada untukku. Yang duduk di sampingku saat aku menangis diam-diam di malam hari. Yang mengajarkanku bermain piano dengan sabar, meskipun jariku sering menekan tuts yang salah. Yang menyuapiku bubur saat aku sakit, dan diam-diam memberiku potongan roti cokelat yang dia simpan dari makan malam.
Phi Bright itu… tempat aman untukku.
Dia bukan orang yang periang, kehadirannya selalu membuatku tenang.
Tapi kemudian… dia pergi.
Aku tidak tahu ke mana. Tidak sempat pamit. Dan sejak itu… aku selalu merindukannya.
Aku ingin sekali bertemu dengannya lagi, phi.
Tapi sekarang aku tahu, mungkin aku tidak akan punya kesempatan itu.
Jadi, aku titip, ya…
Nama aslinya War Wanarat.
Jika suatu hari kau bisa menemukannya…
Tolong, jaga dia untukku. Titip dia, ya.
Katakan padanya… aku rindu. Aku tidak pernah lupa.
Dan, phi…
Aku juga ingin minta maaf.
Kau pernah berjanji ingin mengajakku keliling dunia saat kita sudah dewasa. Katamu, kita akan makan ramen di Jepang, naik balon udara di Turki, dan bermain salju di Korea. Aku sangat percaya waktu itu. Aku bahkan menuliskan daftar tempat-tempatnya.
Tapi sekarang… aku tidak bisa ikut.
Maaf, ya…
Aku tidak bisa menepati bagianku dari mimpi itu.
Tapi kau harus melanjutkan mimpinya.
Dan jika suatu hari kau pergi ke tempat-tempat itu…
Bawa aku di hatimu.
Anggap saja aku duduk di sebelahmu. Seperti dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
IT'S YOU
General FictionIt's a story about a boy, a little sister, and another boy who were destined to meet each other 🤍 ✅Complete!
