The secret

65 10 1
                                        


Hari-hari berlalu seperti biasa.

     Entah sudah berapa lama sejak Yin mulai bekerja di bawah War, lelaki yang kini bukan hanya atasannya, tapi juga kekasihnya. Mereka bekerja bersama, saling mendukung, saling menjaga. Dalam pandangan semua orang, Yin adalah karyawan baru yang cerdas, rendah hati, dan punya semangat besar. Bagi War, dia adalah sosok yang hangat, perhatian, dan perlahan-lahan menjadi bagian penting dari hidupnya.

Namun di balik semua senyum dan kasih sayang yang Yin berikan, ada satu hal yang masih dia sembunyikan rapat-rapat. Sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh satu orang, Prom, sahabatnya sejak lama.

Yin bukanlah karyawan biasa. Dia adalah anak dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Anak dari sosok besar yang selama ini dikenal hanya sebagai "Boss Wong", pribadi yang jarang turun langsung, namun semua orang tahu, dialah pemegang kendali penuh atas segalanya.

Yin adalah penerus perusahaan itu. Dan suatu hari nanti, dialah yang akan berdiri di puncak, memimpin tempat di mana War kini berdiri sebagai atasannya.

Bukan tidak ingin jujur. Tapi Yin masih belum tahu bagaimana harus mengatakannya. Setiap kali War tersenyum padanya dengan polos, setiap kali lelaki itu dengan tulus memuji kerja kerasnya… Yin merasa dadanya semakin sesak. Bagaimana jika War merasa dibohongi? Bagaimana jika War menjauh setelah tahu siapa dia sebenarnya? Yin takut semua kehangatan itu akan berubah. Takut jika suatu saat War menatapnya bukan lagi sebagai Yin, kekasihnya, melainkan sebagai atasan, sebagai "anak boss". Yin tidak menginginkan itu.

Yang dia inginkan hanya satu: dicintai sebagai dirinya sendiri. Bukan karena jabatan, bukan karena latar belakang, tapi karena hatinya. Karena semua cinta dan perhatian yang dia berikan selama ini memang nyata. Tapi semakin lama dia menunda, semakin besar rasa bersalah itu tumbuh. Dia tahu, waktunya akan datang. Dia harus jujur. Dia harus mengatakan siapa dirinya, sebelum orang lain melakukannya lebih dulu.

     Hari itu hujan turun sejak pagi, dan kini langit sore hanya menyisakan mendung berat yang menggantung malas di atas gedung-gedung kota. Suara rintik air dari sisa hujan masih terdengar samar, menetes di luar balkon apartemen Prom.

Yin duduk bersandar di kursi rotan yang terletak di sudut balkon, mengenakan hoodie abu-abu dan celana pendek. Di kedua tangannya tergenggam sebuah mug kopi yang bahkan belum ia sentuh sejak tadi. Pandangannya kosong, terarah pada jalanan basah di bawah sana. Rintik hujan sisa badai siang tadi masih menyisakan suara gemericik halus yang menggema di kejauhan.

Di sampingnya, Prom duduk sambil membawa mug kopi yang yang sama. Sesekali, sahabatnya itu melirik Yin dengan tatapan gelisah. Ada sesuatu yang terasa berat di udara, dan Prom tahu… sahabatnya sedang menyimpan sesuatu dalam diamnya.

“Apa yang kau pikirkan dari tadi?” ucap Prom pelan, mencoba membuka percakapan. “Wajahmu seperti orang yang akan kehilangan warisan.”

Yin mengulas senyum tipis, namun tidak mampu menyembunyikan desahan panjang yang menyusul setelahnya.

“Bukan kehilangan warisan,” katanya lirih. “Justru karena warisan itu, aku jadi pusing.”

Prom tak langsung menanggapi. Dia hanya menggeser posisi duduknya sedikit lebih dekat, tanda bahwa dia siap mendengarkan.

“Aku masih belum memberitahunya, Prom” ucap Yin, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku belum mengatakan siapa aku sebenarnya.”

Prom menatapnya dalam-dalam. “Maksudmu, soal kau anaknya Mr. Wong?”

Yin mengangguk perlahan. “Aku takut. Aku takut kalau dia tahu, semuanya akan berubah.”

“Yin…” Prom menarik napas panjang, mencoba memilih kata. “Sudah berapa lama kalian berkencan?”

IT'S YOUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang