Setelah mengantar War pulang, Yin juga langsung kembali ke rumahnya. Dia sangat bahagia jika memikirkan War yang sudah berhasil dia luluhkan hatinya. Dunianya kembali berwarna. Sinar di matanya sudah kembali seperti dulu.
Setelah mandi, Yin duduk di ruang tengah sambil menonton TV. Mommynya sedang menyiapkan piring di meja makan sedangkan bibi Joom sibuk memasak di dapur. Tak lama setelah itu Mommy Wong ikut bergabung bersama Yin di depan TV.
"Bagaimana pekerjaan hari ini Mom? Kau lelah?" Tanya Yin. Mommy Wong mengernyitkan dahinya, merasa aneh karena anaknya terlihat sangat bersemangat hari ini.
"Yahh cukup lelah, bagaimana kau tahu?" Yin hanya tersenyum.
"Mom mau ku pijat?" Usul Yin yang kembali membuat kening Mommy Wong berkerut untuk kedua kalinya. Tidak biasanya anaknya bertingkah seperti itu.
"Tentu saja itu tawaran yang tidak akan ku tolak" Mommy Wong lalu memunggungi Yin dan membiarkan pundaknya dipijat.
"Wahh sudah lama kau tidak memijatku seperti ini"
"Mom katakan saja kapanpun kau ingin ku pijat, aku akan melakukannya" Sahut Yin sambil tersenyum.
"Kau tidak lelah? Bagaimana pekerjaanmu?" Yin kemudian menceritakan dengan panjang lebar bagaimana pekerjaannya di kantor akhir-akhir ini. Mulai dari bagaimana dia meeting dengan client-client besar sampai kelakuan konyol teman-teman satu Timnya. Mommy Wong tersenyum dan sesekali tertawa mendengar cerita Yin. Dia sangat rindu pada anaknya yang suka bercerita padanya seperti ini. Dia kembali merasa bahagia karena Yin sudah kembali menjadi Yin yang periang.
"Prom sama sekali tidak berubah" Ucap Mommy Wong di tengah-tengah cerita Yin yang sedang menceritakan Prom di kantor. Dia lalu melanjutkan bercerita tentang anggota tim yang lain, terutama War. Senyuman selalu ada di bibirnya saat menceritakan kekasihnya itu.
"Baiklah-baiklah, aku percaya kau bekerja dengan baik disana. Tentu saja aku tidak perlu khawatir, War ada di Tim itu"
"Tentu saja Mom, phi War yang terbaik" Jawab Yin, kembali tersenyum dengan lebar.
"Kau tahu, kau selalu tersenyum sangat lebar saat berbicara tentang War" Ucap Mommy Wong. Yin masih terdiam dengan senyumnya.
"Orang lain akan salah paham dan bisa beranggapan kau menyukainya jika kau terus tersenyum seperti itu" Goda Mommy Wong sambil tertawa. Namun Yin tidak menjawab ataupun menyanggah pernyataan Mommynya. Mommy Wong berhenti tertawa dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Dia tahu arti dari senyuman anaknya, tanpa perlu dijelaskan. Matanya terbelalak tak percaya.
"Anan, jangan bilang kau?....." Yin menggenggam kedua tangan Mommynya sambil tersenyum. Sudah saatnya dia juga bercerita tentang War pada Mommynya.
"Benar Mom, aku menyukainya. Sangat menyukainya" Ucapnya tanpa ragu. Mommy Wong masih shock dengan apa yang baru saja diucapkan oleh anaknya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Apakah aku tidak boleh menyukainya Mom? Apa kau akan melarangku untuk menyukainya?" Mommy Wong menggelengkan kepalanya, membuat Yin sedih dengan jawaban Mommynya.
"Bukan, maksudku, sebentar biarkan Mommy bernafas" Mommy Wong lalu merenung dihadapan Yin sambil mengatur nafasnya. Informasi itu terlalu mendadak baginya.
"Anan? Bukankah kau sudah menyukai seseorang? Bagaimana dengan orang itu? Orang yang membuatmu jatuh cinta itu? Kau gagal mendapatkannya? Kenapa kau cepat sekali berubah menjadi menyukai War?"
"Tidak Mom, tidak berubah sama sekali. Aku berhasil mendapatkannya" Jawab Yin.
"Lalu? Bagaimana dengan War? Hei kau tidak boleh mempermainkan perasaan seseorang Anan. Bagaimana bisa kau jatuh cinta dan menyukai dua orang sekaligus? War anak yang baik, kau tidak boleh bermain dengan perasaannya seperti itu" Oceh Mommy Wong mengomeli anaknya. Itu membuat Yin tertawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
IT'S YOU
Ficción GeneralIt's a story about a boy, a little sister, and another boy who were destined to meet each other 🤍 ✅Complete!
