Beberapa tahun telah berlalu. Waktu berjalan tanpa terasa, tapi Yin dan War tetap berada di sisi satu sama lain, melewati suka dan duka. Hubungan mereka tidak hanya sekadar bertahan, melainkan tumbuh semakin kuat.
Hari itu, ruang rapat dipenuhi semua anggota tim. Berkas-berkas proyek masih menumpuk di meja, layar proyektor yang biasanya menampilkan grafik kini gelap, hanya menyisakan pantulan samar lampu ruangan. Semua orang menunggu, suasana yang biasanya hangat terasa berbeda—tegang, penuh rasa ingin tahu.
Yin berdiri di ujung meja panjang. Tubuhnya tegak, wajahnya tenang, meski di balik dada ia bisa merasakan detak jantung yang tak mau kompromi. Tatapan mata rekan-rekannya membuat lidahnya terasa berat.
“Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk semua kerja sama kita selama ini, untuk semua kerja keras kita bersama, dan juga karena sudah sabar membantuku dari awal bergabung ke dalam tim” ucap Yin, suaranya terdengar mantap, meski ada getar halus yang sulit ia sembunyikan. “Tapi… hari ini aku ingin memberitahu kalian semua bahwa aku memutuskan untuk resign. Keputusan yang berat tapi juga yang paling tepat untukku.”
Kata-katanya menggantung di udara. Sejenak ruangan hening, begitu hening hingga deru pendingin ruangan terdengar jelas. Lalu, hampir bersamaan, beberapa pasang mata melebar.
“Resign?!” Fern memecah keheningan dengan suara kaget. “Hei, kenapa tiba-tibaYin? Kita baru saja menyelesaikan proyek besar, dan kau—kau salah satu orang yang paling kami andalkan.”
“Apa ini serius War?” Milk ikut bersuara, terdengar panik. War mengangguk pelan.
Beberapa orang saling pandang, wajah mereka penuh kebingungan dan sedih. Ada yang langsung menunduk, berusaha menyembunyikan mata yang mulai berkaca-kaca.
Di antara mereka semua, hanya dua orang yang tetap tenang—War dan Prom. War duduk dengan posisi sedikit condong ke depan, kedua tangannya bertaut di atas meja, sorot matanya penuh pengertian. Sementara Prom menatap Yin dengan senyum tipis, tidak ada keterkejutan sama sekali. Dari awal, ia memang sudah tahu.
Yin menarik napas pelan, mencoba meredakan emosi yang ikut mengaduk dalam dirinya. “Aku punya alasan pribadi,” katanya dengan nada lembut. “Tapi yang pasti, keputusan ini sudah kupikirkan matang-matang. Aku tidak ingin pergi begitu saja tanpa pamit dan tanpa mengucapkan terima kasih.”
Ia berhenti sejenak, menatap satu per satu wajah di hadapannya. Wajah-wajah yang pernah bersamanya di tengah malam, saat lembur. Wajah-wajah yang pernah sama-sama menahan tawa di tengah rapat serius. Wajah-wajah yang pernah jatuh bersama, lalu bangkit bersama.
“Baiklah agar suasana tidak semakin sedih, aku ingin mengajak kalian semua makan malam malam ini,” lanjut Yin dengan senyum tipis. “Anggap saja perpisahan kecil, sekaligus rasa terima kasihku. Kalian sudah banyak membantuku, sejak pertama aku bergabung hingga hari ini. Aku tidak akan pernah lupa.”
Kata-katanya membuat keheningan baru tercipta. Bukan lagi karena terkejut, melainkan karena haru. Satu per satu, orang mulai mengangguk. Ada yang menyeka sudut matanya dengan cepat, ada yang mencoba tersenyum walau bibirnya bergetar.
Dan di detik itu, Yin sadar—perpisahan ini memang berat, tapi ia meninggalkan sesuatu yang berharga: jejak yang tidak akan hilang.
Malam itu, mereka duduk di sebuah restoran barbeque. Lampu gantung kuning temaram menciptakan suasana akrab, seakan waktu berjalan lebih lambat untuk memberi mereka kesempatan menikmati momen terakhir bersama.
Meja panjang dipenuhi hidangan yang sudah mereka pesan, dan aroma masakan dan asap bercampur dengan tawa serta percakapan yang riuh rendah.
“hei kau masih ingat saat Yin pertama kali datang?” ujar Fern sambil menyuap nasi ke mulutnya. “Wajahnya dingin sekali, tanpa senyum sedikitpun. Yah meskipun memang sangat tampan, aku sampai terkejut”
KAMU SEDANG MEMBACA
IT'S YOU
RomanceIt's a story about a boy, a little sister, and another boy who were destined to meet each other 🤍 ✅Complete!
