Setelah malam yang dipenuhi air mata itu, War dan Yin terbangun dengan kekuatan yang baru. Meski luka di hati mereka masih terasa perih, ada kelegaan yang mengalir melalui pelukan yang mereka bagi sepanjang malam. Dua jiwa yang sama-sama kehilangan, namun memilih untuk tetap berjalan bersama.
Yin akhirnya kembali ke kantor. Dia mulai beraktivitas seperti biasa, meskipun ada sesuatu dalam dirinya yang berubah. Ada ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, sebuah kedamaian yang perlahan tumbuh dari kesedihan yang mereka bagi. Dan setiap kali ia memikirkan War, ada kehangatan yang pelan-pelan mengisi rongga dadanya. Bukan hanya karena rasa sayang, tapi juga karena War kini menjadi bagian dari hidupnya yang tak tergantikan.
Di sela waktu makan siang, Yin menyempatkan diri untuk berbicara dengan Prom. Ada rasa penasaran yang sejak malam itu terus mengusik pikirannya, tak kunjung reda.
“Prom,” panggilnya pelan, penuh kehati-hatian. “Sebenarnya... kau sudah tahu siapa Bright sebelum aku tahu, bukan?”
Prom terdiam sejenak, seolah memilih kata-kata yang tepat. Dia kemudian mengangkat wajahnya. “Aku tidak tahu pasti,” jawabnya pelan. “Aku hanya menebak.”
“Hanya menebak?” tanya Yin, keningnya mengernyit samar.
“Ya. Phi War pernah bercerita padaku tentang adik perempuannya dari panti. Namanya Sunny,” ucap Prom, suaranya sedikit mengecil di akhir kalimat.
Hati Yin terasa seperti diremas ketika nama itu kembali disebut. Sunny. Gadis kecil yang begitu ia cintai dan ternyata, tanpa mereka sadari, telah menjadi benang merah yang menghubungkan takdir mereka jauh sebelum mereka saling mengenal.
Yin tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan, membiarkan pikirannya kembali hanyut dalam ingatan dan perasaan yang bercampur aduk. Terlalu banyak yang berputar di kepalanya, dan untuk saat ini, ia memilih menyimpannya sendiri.
Sepulang dari kantor, Yin duduk terdiam di dalam kamarnya. Malam itu, seusai makan malam bersama keluarganya, dia memberanikan diri membuka kembali kisah lama yang selama ini dia simpan rapat-rapat dalam hati. Dengan suara tenang namun berat, Yin mulai bercerita bahwa dia telah menemukan sosok Phi Bright. Sosok yang selama ini begitu dirindukan Sunny. Sosok yang selalu disebut-sebut oleh adik kecilnya dahulu, dalam setiap cerita dan mimpinya.
Tentu saja, kedua orang tuanya tidak asing dengan nama itu. Nama yang sering diucapkan Sunny, dengan mata berbinar dan senyum penuh kasih. Sunny selalu bercerita betapa dia menyayangi kakaknya di panti—Phi Bright. Namun selama ini, mereka tidak pernah benar-benar tahu siapa anak laki-laki itu. Ketika akhirnya Yin mengungkapkan bahwa War adalah Phi Bright yang dimaksud, ekspresi di wajah kedua orang tuanya berubah. Ada kelegaan yang perlahan muncul, namun juga kesedihan yang ikut menyusup tanpa permisi. Mereka akhirnya mengerti dan bersama pemahaman itu, hati mereka ikut nyeri, membayangkan betapa hancurnya perasaan War jika tahu harus kehilangan adik yang begitu dia rindukan.
Mommy Wong akhirnya membuka suara.
“Mommy ingat” ucapnya pelan, tatapannya menerawang jauh ke arah meja makan yang kini telah kosong. “Dulu, saat kami sering mengunjungi Sunny di panti, ada seorang anak laki-laki yang selalu duduk di sebelahnya. Dia selalu menggandeng tangan Sunny... menjaganya, menemaninya.”
Yin menoleh pelan,“Itu pasti phi War, Mom.”
Mommy Wong mengangguk perlahan. “Mommy tidak tahu namanya saat itu. Tapi anak itu, selalu ada disamping Sunny. Aku tidak tahu jika dia adalah kakak yang sering Sunny ceritakan…”
Mommy Wong terdiam sejenak. Matanya mulai berkaca-kaca, dan suaranya terdengar semakin rapuh.
“Mommy juga ingat Sunny pernah menolak untuk diadopsi” lanjutnya dengan suara yang bergetar. “Dia bilang, dia tidak mau meninggalkan kakaknya. Katanya, jika kakaknya tidak ikut, dia juga tidak mau ikut.”
KAMU SEDANG MEMBACA
IT'S YOU
General FictionIt's a story about a boy, a little sister, and another boy who were destined to meet each other 🤍 ✅Complete!
