Kedua orang tua Yin senang anaknya sudah kembali ke rumah, namun semuanya terasa berbeda. Terutama sikap Yin, dia sekarang sangat dingin. Dia tidak lagi suka bercerita dengan Mommy dan Daddy Wong. Dia menutup diri dari segalanya. Mereka butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan sikap Yin yang sangat berubah. Tentu saja mereka sangat sedih melihat anak satu-satunya itu selalu terlihat murung, namun mereka membiarkan Yin. Mereka yakin seiring berjalannya waktu, Yin akan kembali seperti dulu.
Yin sedang duduk di teras belakang dan meminum secangkir teh buatan Bibi Jom. Dia kembali teringat malam ulang tahunnya, semua masih segar diingatannya. Malam paling bahagia sekaligus paling sedih yang dia rasakan. Hatinya kembali hancur, lalu dia bergegas kembali masuk ke rumah. Dia berjalan melewati ruang tengah, dia tertegun sejenak. Dia melihat piano Sunny masih ada disana. Dia ingat dia selalu senang saat bisa bermain piano bersama adiknya. Tenggorokannya terkecekat, hampir menangis. Namun dia menahannya dan berlari menuju kamarnya. Nafasnya tak beraturan, dia mendapat serangan panik lagi. Dia menenangkan diri setelah meminum obatnya. Dia duduk lama di kasurnya, merenung. Mommy Wong mengetuk pintu kamarnya, Yin dengan cepat menyembunyikan obat penenangnya di bawah bantal.
"Masuk saja Mom" Mommy Wong masuk dan duduk di sebelah Yin.
"Kau baik-baik saja? Mommy melihatmu berlari ke kamar"
"Aku baik-baik saja"
"Kau bisa bercerita pada Mommy nak"
"Tidak mom, aku baik-baik saja" Mommy Wong hanya mengangguk. Dia melihat sekeliling kamar Yin dan melihat botol minuman starwars di atas meja.
"Tidak ku sangka semakin kau dewasa, kau mulai menyukai barang seperti ini lagi Anan" Mommy Wong mengambil botol itu dan mengamatinya.
"Bukan punyaku mom"
"Lalu?"
"Temanku, dia memberikannya padaku" Mommy Wong mengangguk lagi. Lalu dia mulai bercerita tentang beberapa client yang datang ke butiknya tadi. Dia rindu berbagi cerita dengan anaknya, Yin hanya diam dan mendengarkan. Tapi itu cukup membuat Mommy Wong senang.
"Sepertinya aku terlalu banyak bicara, kau pasti bosan ya?" Yin menggeleng.
"Kau bisa bercerita apa saja padaku mom, aku akan mendengarkan" Mommy Wong memeluk putranya.
"Mommy sangat merindukanmu Anan" Ucap Mommy Wong lirih. Setelah itu Mommy Wong keluar dari kamar Yin. Yin merebahkan tubuhnya di kasur, dan menatap langit-langit.
"Mom dan Dad pasti sangat kesepian, aku bukan hanya gagal menjadi kakak tapi sekarang aku juga gagal menjadi seorang anak. Aku sangat egois" Ucap Yin dalam hati, dia kembali menyalahkan dirinya sendiri.
"Tidak, aku tidak boleh mengecewakan Mom dan Dad lagi. Aku tidak bisa terus seperti ini, Sunny juga pasti sedih melihatku terpuruk seperti ini" Lalu Yin bangkit dari tidurnya dan berjalan ke meja dimana dia meletakkan laptopnya. Dia mulai mendaftar pekerjaan di beberapa perusahaan, salah satunya adalah perusahaan Daddy nya sendiri. Daddy Wong pernah berkata bahwa setelah lulus Yin yang akan mengambil alih perusahaan, namun dia merasa dirinya belum layak untuk menjalankan dan memimpin perusaan yang di bangun dengan susah payah oleh Daddy nya itu. Kalau pun dia harus bekerja disana, dia akan melamar seperti calon pekerja yang lain. Dia ingin memulai dari awal. Setelah selesai, di melihat botol starwars di sebelah laptopnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.