Snippet of her life

79 12 1
                                        


     Senja mulai merayap turun ketika mobil yang dikendarai Yin melaju perlahan di tengah kepadatan kota. War duduk di sampingnya, masih mengenakan jas tipis yang tadi ia kenakan ke kantor, kini telah dilepas dan dilipat rapi di pangkuannya. Di luar, langit memudar menjadi jingga keemasan, menyapu jendela mobil dengan pantulan cahaya hangat. Jalanan yang sibuk, orang-orang yang terburu-buru menyeberang, dan suara klakson samar menjadi latar bagi ketenangan yang tercipta di dalam kabin mobil mereka.

Yin menggenggam tangan War dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang kemudi. Dia tidak terburu-buru. Mobil mereka melaju tenang, seolah sore itu tidak perlu diselesaikan terlalu cepat.

“Aku sudah menceritakannya pada orang tuaku” ucap Yin tiba-tiba. Suaranya datar, namun terdengar mantap.

War menoleh cepat, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Tentang apa?”

“Tentang kau. Tentang kita.”

War terdiam sesaat. Jantungnya berdetak lebih cepat. “Kau… maksudmu… kau mengatakan jika kita berkencan?”

Yin mengangguk pelan, masih menatap lurus ke jalan di depannya. Seolah dia butuh waktu untuk berani menatap wajah War setelah pengakuan itu.

“Aku mengatakan jika aku telah memiliki seseorang. Dan aku juga berkata jika dia adalah seorang pria.”

War menarik napas panjang, menunduk, lalu memalingkan wajah ke jendela. Tatapannya mengikuti siluet pepohonan yang melintas perlahan di luar, namun pikirannya jauh dari tenang. Ada campuran rasa takut, khawatir, dan sesuatu yang sulit dia definisikan.

“Mereka marah?” tanyanya akhirnya, nyaris berbisik.

“Tidak,” jawab Yin cepat. “Terkejut, ya. Tapi mereka tidak marah.”

War menelan ludah. “Tapi tetap saja, kemungkinan besar aku bukan seseorang yang mereka harapkan. Aku bukan dari latar belakang—”

“Phi” Yin memotong lembut. Kali ini dia menoleh, menatap kekasihnya dengan tatapan tenang namun penuh ketegasan. “Mereka tidak peduli kau berasal dari mana. Mereka hanya ingin aku bahagia.”

War membalas tatapan itu. Mencari kebenaran di dalamnya dan dia menemukannya.

“Kau tahu,” lanjut Yin perlahan, “selama ini aku memang terlihat seperti anak yang punya segalanya. Tapi sebenarnya aku juga pernah tersesat. Aku pergi ke Hongkong karena aku kehilangan arah, kehilangan alasan untuk menjalani kehidupan, tidak tahu apa masa depan seperti apa yang ingin kujalani. Dan ketika aku kembali, aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan hidup untuk kebahagiaan ku sendiri”

War masih diam, namun genggamannya pada tangan Yin mulai mengencang. Tanda bahwa dia mendengarkan, bahwa hatinya tergerak.

“Mereka berkata bahwa mereka tidak akan pernah mau kehilanganku lagi. Mereka lebih memilih aku yang jujur, meskipun jalanku tidak sesuai dengan harapan mereka. Karena yang lebih menyakitkan adalah melihat ku hidup tanpa tau arah. Hidup tanpa jiwa. Tanpa senyum yang dahulu selalu ada” kata Yin sambil tersenyum kecil.

War menunduk, matanya berkaca-kaca. Kalimat itu begitu sederhana, tapi menghantam tepat ke tempat paling rapuh di hatinya.

“Mereka tidak masalah kau jatuh cinta pada pria?” tanyanya lirih.

“Mereka tidak masalah aku jatuh cinta pada orang yang membawa kembali semangat hidupku” jawab Yin.

War mengangkat kepala, bibirnya bergetar menahan emosi. “Dan kau yakin… itu aku?”

Yin mengangguk. Lalu meremas tangannya perlahan. “Itu kau phi. Sejak pertama kali aku sadar akan perasaanku kau adalah rumah. Dan aku ingin orang tuaku tahu siapa yang membuat ku merasa pulang.”

IT'S YOUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang