FOLLOW SEBELUM MEMBACA.
40. I LOVE YOU
...
Ternyata sekeras apa pun Elona menyangkal, hadirnya sosok Dipo dalam hidupnya adalah sebuah kebetulan yang patut ia syukuri. Elona yang saat ini tengah bersedih hati adalah Elona yang sudah berdandan rapi dengan rok setengah paha dipadu kaos polo putih.
Kalau saja dirinya ini masih sendiri, Elona yakin seribu persen kalau ia akan berkutat seharian penuh dengan bukunya, membatalkan agenda lain yang akan merusak hari-hari suramnya. Jangan tanya apa hal yang akan Elona lakukan selain belajar tentu saja berenang atau mungkin tiba-tiba beralih menjadi seorang atlit panah.
"Kamu jangan sendirian di rumah sayang, besok aku jemput, temenin anterin Si Mario ke bandara."
Elona menolak awalnya, selain karena kondisinya sedang tidak baik-baik saja, memberikan space untuk Dipo dan Mario lebih baik, menurutnya, yah, walaupun perginya Mario juga tidak lama, hanya menghitung hari. Kata Dipo, Mario hendak ke Manado, mengunjungi neneknya, Mario memang sangat menyayangi neneknya, waktu kecil ia dirawat oleh wanita itu dengan penuh kasih.
"Gak apa-apa, Dip, gue di rumah aja, gue juga mau ngerjain tugas."
"Please, ikut yah ...."
"Jam berapa emang?"
"Jam 9, Mario flight jam 12, biarin aja dia nunggu daripada telat."
Pada akhirnya Elona mengiyakan, yang mana membuat Dipo sangat teramat senang, padahal Elona hanya akan menemaninya ke bandara, bukan menerima lamarannya.
Dipo Panji Tirtayasa, Elona menduga kalau semasa kecil tangki cinta Dipo dari kedua orang tuanya sangat penuh. Selain itu, sepertinya Dipo banyak belajar tentang mengasihi seorang wanita terlihat bagaimana ia begitu menyayangi kakak perempuannya dan selalu mengingat ibunya.
Pernah sekali Elona melihat Dipo keluar rumahnya membayar makanan pesan antar, cowok itu membayar lebih dari yang semestinya yang mana membuat pengantar makanannya bertanya mengapa diberi lebih, Dipo menggeleng sembari tersenyum katanya diambil saja. Samar-samar Elona mendengar kalau si pengirim sangat berterima kasih, orderannya masih sangat sedikit yang masuk di hari itu, padahal sudah hampir pukul 12 malam, namun Dipo memberikannya rezeki lebih, tahu apa yang dijawab Dipo?
'Diambil, ya, Pak, tolong doain ibu saya saja semoga di tempatkan di tempat terbaik.'
Elona tidak bisa menjamin bagaimana seorang Dipo ke depannya, namun Dipo yang hari ini bersamanya adalah Dipo yang lebih dari cukup memberikannya sebuah kenyamanan, kedamaian, dan yang terpenting adalah mampu membuat dirinya tetap menjadi dirinya sendiri.
Jadi, jangan heran kenapa Elona selalu berwaspada pada cowok itu, bukan berwaspada karena bahaya namun takut kecintaan, walaupun om dan saudara-saudara sepupunya juga laki-laki yang baik namun Dipo adalah bukti nyata yang bisa ia rasakan sendiri.
Me:
Emang gak aneh kalau gue ikut?
Dipo Tirta:
Ntar, aku turunin Mario di jalan kalau banyak nanya.
Membaca pesan itu membuat Elona hanya menggeleng-geleng, cepat atau lambat semuanya akan mengetahui hubungannya dengan Dipo.
Yah, semua akan mengetahui kalau Dipo adalah pacarnya begitu pun sebaliknya.
Civic putih milik Dipo sampai di depan rumah Elona, ketika baru saja berhenti Elona yang mendekat cukup kaget melihat Mario yang turun dari kursi samping kemudi. Elona yakin seribu persen kalau Dipo yang menyuruh cowok itu untuk turun dari singgasananya. Mario tidak menampakkan wajah kesal, hanya senyuman bodoh kemudian masuk ke pintu belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANDROMEDA
Teen Fiction[BEBERAPA CHAPTER DIPRIVAT, FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Dipo Panji Tirtayasa adalah seorang anak geng sekolahan yang populer. Ia manis, suaranya bagus, pandai bermain gitar, jago bela diri, wangi, juga pecinta warna hitam. Cowok jangkung yang kerap kali...
