25. SAYAP PELINDUNGMU

38.6K 5.8K 30.3K
                                        

HAI SEMUA!

APA KABAR?!
semoga baik-baik ajaa yaa!

Aku banyakkkk tugassss, mau gilaaa mauu nangisssss, maaf buat kalian nunggu lamaa banget. Dulu, aku luang banget gais, jadi bisa up Andromeda cepet sekarang udah susah bangettt. Once again, maaf semuanya😭🙏

Jangan lupa vote dan komen sebanyak-banyaknya chapter ini, karena targetnya kayak kemaren aja.

Sekali lagi maaf yaa gaiss, selamat membaca.




•••


25. SAYAP PELINDUNGMU




ELONA yang menjadi saksi di mana Dipo bersujud pada kaki kakak perempuannya itu terenyuh.

Di sana, bukan sosok Dipo yang agresif yang selalu ia lihat, bukan juga sosok Dipo yang biasanya marah-marah tidak jelas padanya.

Saat ini adalah Dipo yang capek.

"Dip, please."

"Tolong gue, Dit. Jangan tinggalin gue. Gue gak punya siapa-siapa," kata Dipo "Cari gue, Dit. Datang ke gue kapan pun lo butuh, gue bakal selalu usahain buat lo."

Dipo Panji Tirtasaya yang terluka, mencoba baik-baik saja, mencoba menjadi tameng untuk orang yang juga sakit seperti dirinya.

Elona memilih keluar dari persembunyiannya, melangkah dengan mantap untuk mendekat, yang mana ketika beberapa langkah lagi sampai Dipo yang melihat sepatunya perlahan bangun dari posisinya yang tadi.

Cowok itu terkejut bukan main namun, Elona berusaha untuk tidak mempedulikan itu hingga ia kembali mendekat.

"Semua manusia pernah capek tapi sabar gak ada batasnya. Semua manusia pernah mau tukar posisi di tempat manusia lain sampai lupa kalau setiap cobaan manusia sudah diukur sesuai kemampuan dan kapasitasnya."

"Kamu sakit butuh obat bukan bunuh diri." Elona tersenyum, cewek itu memengelus kedua pundak di hadapannya itu.

Tatapan Dita tak bisa dideskripsikan. "Kalau kamu punya satu alasan buat ngakhirin hidup, kamu pasti punya banyak alasan buat tetap di sini. Raka ... he's need you. Please comeback stronger. Kamu gak hanya ngecewain orang-orang di belakang kamu loh tapi, Tuhan yang sampai detik ini masih ngasih kamu napas dengan baik."

Elona memeluk wanita di hadapannya itu.

"Hidup itu pilihan, hidup itu permainan, dan hidup itu bertujuan," kata Elona yang mana membuat Dita membalas pelukannya dengan isak akibat sedari tadi berusaha menahan air matanya. "Kembalilah sebagai pemenang kalau semua misimu sudah selesai. Jangan ngelampauin takdir Tuhan, kematian itu bukan untuk coba-coba."

"El ...."

"Aku di sini, bahkan bukan cuma aku, kamu punya banyak orang yang peduli ke kamu."

"Aku-"

"Jangan buat aku kembali ngulang semua kalimat panjang aku di atas."

"I'm speechless now, thank you for coming and hug."

"No, terima kasih ke Dipo," kata Elona masih saling berpelukan dengan sosok Dita.

Elona yang malam ini Dipo lihat adalah Elona yang selalu ia dengar di Andromeda.

Dipo bangkit dari posisinya.

Jarang-jarang Elona menyebut namanya. Ia ingin menyentuh bahu cewek itu namun, masih teringat kalau keadaannya dengan Elona terakhir sedang tidak dalam baik-baik saja yang mana alhasil tangan cowok itu mendarat mengelus puncak kepala kakaknya yang bertumpu pada bahu Elona.

ANDROMEDATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang