[BEBERAPA CHAPTER DIPRIVAT, FOLLOW SEBELUM MEMBACA]
Dipo Panji Tirtayasa adalah seorang anak geng sekolahan yang populer. Ia manis, suaranya bagus, pandai bermain gitar, jago bela diri, wangi, juga pecinta warna hitam. Cowok jangkung yang kerap kali...
Komen yang banyak ya guys, im still here karena nulis di Wattpad tuh bisa baca-baca komen kalian, kalau lagi males buat update ya bacain komen lucu-lucu ceritanya. Itu salah satu penyemangat sih. 🥹
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
fhalawwww~
Happy reading, bebssss!
44. TELLING MOM ABOUT HIM
"ELONA, what brings you here?"
"I just felt like it."
Narena Andromeda baru saja menginjakkan kakinya di Indonesia, dan hal pertama yang ingin ia lakukan tentu saja menemui putri semata wayangnya, Elona Khanza Wardana.
Anak gadisnya yang sejak kecil jarang merengek itu sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Elona semakin tinggi, bahkan sudah melampaui tingginya. Setiap kali menatap Elona jujur saja banyak mengikis ruang di dalam hatinya.
Sering kali Narena merasa gagal karena Elona tidak tumbuh menjadi gadis yang dekat dengannya karena kesalahannya sendiri yaitu terlalu sibuk. Narena bahkan harus berpisah dengan Adipati—Ayah Elona, yang mana menghancurkan tempat pulang gadis itu. Bukannya memberikan Elona rumah, kenyamanan, serta kebahagiaan, Narena malah menggores luka yang dalam untuk anak satu-satunya ini.
Elona yang pendiam, tidak mudah percaya, kaku nan cuek serta jarang tersenyum adalah hal yang kerap Narena dengar dari orang-orang selain kata pintar.
Tidak perlu orang-orang di luar sana mengatainya sebagai ibu yang gagal, Narena sudah lebih dulu menyalahkan dirinya.
Hari ini di restoran bergaya eropa, Narena mengajak Elona untuk bertemu. Rasanya rindu sekali ingin melihat Elona, terbukti ketika putrinya itu datang, Narena langsung memeluk Elona dengan erat.
"Kamu gak rindu Mom?"
"Rindu."
"Kamu rindu jadinya kamu dateng, iya kan?"
"Iya Mom," jawab Elona sembari melihat-lihat menu, kali saja Elona butuh memesan menu tambahan lagi. Selain itu, ia juga sedikit merasa canggung walau itu hanya untuk menatap wajah ibunya.
"Kamu kok makin cantik sih? Kamu sekarang punya pacar?"
Pertanyaan dari Ibunya tentu membuat Elona sedikit melonggarkan tatapannya pada menu yang sedang ia baca, ia menoleh sekilas ke arah wanita yang menodongnya dengan senyuman jahil.
Elona merasa tidak ada yang berubah dari dirinya namun mengapa semua orang mengatakan kalau ia berubah, entah auranya yang terlihat sedang bahagia, butterfly era, atau bahkan semakin cantik. Ibunya bukan orang pertama yang mengatakan itu, Bunda Aruna, Thana, bahkan Cakra pun ikut-ikutan.
"Kamu kelihatan butterfly era, El, akhir-akhir ini. Tapi kok malam ini muka kamu masam," itu kalimat Cakra semalam yang tentu saja hanya dijawab dengan putaran bola mata malas.