Happy Reading
Tangisan bayi masih memenuhi ruangan.
Bulan terkulai lemah, napasnya berat tapi lega. Dokter dan perawat bergerak cepat memastikan semuanya aman.
Namun di sisi ranjang—
Gala berdiri terlalu lama tanpa bergerak.
Wajahnya sudah pucat sejak tadi. Saat proses terakhir berlangsung, ia mencoba tetap fokus pada Bulan. Tapi ketika ia melihat darah yang cukup banyak mengalir dan perawat bergerak sigap membersihkan—
pandangannya mulai kabur.
Suara di ruangan terdengar jauh.
Tangannya yang masih digenggam Bulan perlahan mengendur.
"Gala..." Bulan memanggil lirih, masih setengah sadar.
Gala mencoba menjawab. Tapi yang keluar hanya napas pendek.
Ia menelan ludah, mencoba bertahan.
Namun tubuhnya tidak sekuat niatnya.
Dunia seperti berputar cepat.
Langit yang berdiri tak jauh dari sana langsung menyadari perubahan itu.
"Gala?" panggilnya tajam.
Terlambat.
Tubuh Gala limbung.
Dan dalam satu detik yang singkat, ia roboh ke lantai.
Beberapa perawat refleks bergerak.
"Pak! Pak!"
Suasana sempat panik beberapa detik—bukan karena kondisi Bulan, tapi karena suami yang baru saja bertahan mati-matian kini terbaring tak sadarkan diri.
Bulan yang mendengar suara jatuh itu memaksa menoleh.
Melihat Gala tergeletak membuat jantungnya berdebar lagi.
"Dia kenapa...?" suaranya lemah.
"Tenang, Bu. Sepertinya hanya pingsan," jawab salah satu perawat cepat.
Langit membantu mengangkat Gala ke kursi terdekat. Wajahnya benar-benar pucat, hampir tanpa warna.
"Dasar," gumam Langit pelan, campuran kesal dan lega. "Sok kuat."
Beberapa menit kemudian, setelah posisi kakinya sedikit ditinggikan dan wajahnya ditepuk pelan, Gala mulai tersadar.
Matanya terbuka perlahan.
Suara tangisan bayi kembali terdengar jelas di telinganya.
Ia mengerjap beberapa kali.
"Bulan..." itu kata pertama yang ia cari.
Langit menghela napas. "Iya. Dia baik. Bayinya juga."
Gala menoleh ke arah ranjang.
Melihat Bulan yang masih lemah tapi selamat—
dan seorang bayi kecil yang sedang dibersihkan di dekatnya—
air mata kembali menggenang di matanya.
Kali ini bukan karena takut.
Bukan karena darah.
Tapi karena ia hampir saja tidak melihat momen itu sepenuhnya.
****
Beberapa jam setelah suasana benar-benar tenang, kamar perawatan terasa hangat oleh napas kecil bayi yang teratur.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomanceTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
