Happy Reading
jangan lupa vote nya
Gala berhenti tepat beberapa langkah dari mereka.
Langit langsung menyadari kehadirannya. Tatapannya tajam, refleks berdiri sedikit menghalangi.
"Lo ngapain di sini?" suara Langit rendah tapi penuh tekanan.
"Gue ikut," jawab Gala tanpa ragu. Nafasnya masih memburu. "Dia istri gue."
Mami Bulan menoleh. Wajahnya tegang, tapi tidak ada waktu untuk perdebatan.
Bulan kembali meringis. Tangannya mencengkeram sisi kursi roda. Kontraksi datang lagi—lebih kuat dari yang tadi.
"Sudah, jangan ribut!" kata Mami Bulan tegas. "Sekarang bukan waktunya!"
Perawat datang mendorong kursi roda ke arah ruang bersalin.
Gala berjalan mengikuti.
Langit menahan lengannya sebentar. "Kalau Lo bikin dia tambah stres—"
"gak akan," potong Gala cepat. Untuk pertama kalinya, suaranya tidak tinggi. Tidak menantang.
Hanya takut.
Pintu ruang tindakan terbuka.
Perawat menghentikan langkah mereka. "Keluarga tunggu di luar."
Mami Bulan ikut masuk sebentar untuk mendampingi administrasi. Langit dan Gala tertinggal di lorong.
Sunyi.
Hanya suara langkah perawat dan bunyi roda ranjang yang sesekali terdengar.
Gala berdiri menatap pintu itu tanpa berkedip.
Langit menyilangkan tangan di dada. "Lo ngikutin Gue dari kemarin, ya?"
Gala tidak menjawab.
"Itu bukan cara memperbaiki keadaan."
"Gue tahu," jawabnya pelan. "Tapi Gue nggak tahu cara lain."
Langit menatapnya beberapa detik. Biasanya ia akan membalas dengan sindiran. Tapi melihat wajah Gala sekarang—lelah, pucat, benar-benar takut—ia memilih diam.
Waktu berjalan, tapi kontraksi Bulan tak kunjung teratur.
Datang... lalu hilang.
Menguat sebentar... lalu mereda lagi.
Dokter sudah memeriksa beberapa kali.
"Pembukaan masih lambat," katanya tenang. "Kita pantau dulu."
Jam di dinding seperti sengaja bergerak lebih pelan.
Di dalam ruang bersalin, Bulan terbaring dengan napas yang tidak stabil. Keringat membasahi pelipisnya. Tangannya mencengkeram seprai setiap kali rasa sakit datang, tapi rasa itu seperti tertahan—tidak benar-benar membawa proses ke depan.
Seolah bayi itu ragu.
Di luar ruangan, Gala mondar-mandir tanpa arah. Wajahnya pucat. Ia sudah beberapa kali mencoba mendekat ke pintu, lalu berhenti sendiri.
Langit duduk diam di kursi lorong. Kali ini tidak ada sindiran. Ia juga mulai gelisah.
Mami Bulan keluar dari ruangan dengan langkah pelan.
"Bagaimana, Mi?" tanya Gala cepat.
"Masih belum maju," jawabnya pelan. "Kontraksinya tidak konsisten."
Ia menatap Gala lama.
"Tadi dokter bilang... kadang kondisi psikologis ibu juga memengaruhi."
Kalimat itu membuat Gala terdiam.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomanceTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
