Happy Reading
Gala tetap tinggal di dalam mobil sampai benar-benar yakin Langit sudah jauh dari kampung itu.
Mesin dimatikan. Jantungnya berdebar tak terkendali.
Beberapa menit ia hanya menatap rumah bercat putih yang mulai pudar itu. Jemuran kain bayi tergantung di samping jendela. Pot tanaman kecil berjajar rapi di teras.
Ia turun.
Langkahnya cepat, lebih cepat dari yang seharusnya. Kali ini bukan lagi ragu—lebih seperti dorongan yang tidak bisa ia tahan.
Tok.
Tok.
Ketukan pertama pelan.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, lebih keras.
Dari dalam terdengar suara langkah. Pelan. Hati-hati.
Pintu terbuka.
Bulan berdiri di sana.
Matanya membesar. Wajahnya jelas terkejut. Tangannya refleks memegang pinggangnya, menopang perut yang sudah besar.
"Kamu?" suaranya nyaris berbisik.
Tanpa menunggu undangan, tanpa meminta izin, Gala mendorong pintu sedikit lebih lebar dan melangkah masuk.
"Gala......." Bulan sempat berkata, tapi tidak melanjutkan.
Ia tidak menahannya.
Tidak menghalangi.
Tidak memarahinya.
Ia hanya berdiri di sana.
Gala berhenti di ruang tengah rumah kecil itu. Ruangannya sederhana. Sofa tua, meja kayu kecil, kipas angin berdiri di sudut. Di atas meja ada botol vitamin dan buku kontrol kehamilan.
Rumah itu tenang.
Terlalu tenang.
Gala menoleh pada Bulan. "Kenapa kamu di sini? Kenapa tidak pernah bilang?"
Tidak ada nada tinggi, tapi jelas ada tuntutan.
Bulan berjalan pelan ke sofa dan duduk. Wajahnya kembali datar. Ia bahkan tidak lagi menatap Gala.
"Aku cuma ingin tenang," jawabnya singkat.
"Kamu bisa tenang di rumah," balas Gala cepat.
Bulan tidak menjawab.
Ia menatap lurus ke depan, seolah Gala hanya bayangan di ruangan itu.
Keheningan menggantung.
Berat.
Gala menunggu reaksi—marah, tangisan, penolakan. Apa saja.
Tapi Bulan tidak memberikan apa pun.
Ia tidak mengusir.
Ia tidak menyambut.
Ia tidak peduli.
Dan justru itu yang membuat Gala merasa paling tidak nyaman.
"Aku sudah cari kamu ke mana-mana," suara Gala mulai melemah. "Kamu tahu itu?"
Bulan tetap diam.
Tangannya mengelus perutnya pelan. Fokusnya hanya pada gerakan kecil di balik kulitnya, seakan dunia luar tidak penting.
"Bulan, lihat aku," ucap Gala, kali ini lebih pelan.
Bulan menoleh.
Tatapannya kosong.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomantizmTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
