41. semua ada masanya

133 6 0
                                        

Kata rajin kalau dipakai buat mendeskripsikan kelas 12 IPA 3 itu jatuhnya seperti fitnah. 15 menit menjelang bel masuk, kelas masih melompong. Baru sekitar lima siswi di baris paling kanan serta tiga orang laki-laki di pojok belakang. Sehingga dari 32 siswa, baru delapan anak yang sudah menampakkan diri. Sisanya masih tercecer di antara aroma gorengan kantin, macet-macetan di jalanan, atau malah terlelap dalam dekapan mimpi.

Di antara lima siswi tersebut, Alurra duduk di bangku nomor tiga baris paling kiri bersama satu siswi lain yang bernama Bita. Hingga keheningan kelas terkoyak oleh suara dari bangku belakang.

"Eh, Bi, lo tahu nggak yang rame-rame di kompleks kemarin?"

Bita yang merasa namanya dipanggil segera memutar tubuh, menyamping menghadap Alurra yang duduk dekat tembok, sekaligus biar bisa bertatap muka dengan orang yang sepertinya mau menyampaikan berita panas. Berhubung orang itu duduknya di belakang Alurra. "Apa?"

"Itu loh, yang bokapnya Rena." Tubuhnya condong ke depan, memastikan suaranya yang lirih sampai ke telinga dua orang di hadapannya.

Mendengar nama sahabatnya terucap, tatapan Alurra seketika berubah tajam. Tanpa diminta pun, ia ikut memutar badan berhadapan dengan Bita. Siap mendengarkan setiap kata kendati tak berniat turut bicara.

"Bokapnya Rena kenapa emang?" tanya Bita ikut berbisik.

"Masa lo nggak tahu, sih? Kan rumah lo lebih deket sama Rena."

"Sori, gue nggak kepo hidup orang."

Siswi di belakang Alurra itu berdecak. "Katanya beberapa hari lalu selingkuhan bapaknya Rena dateng ke rumah Rena, minta tinggal di situ. Mana selingkuhannya lagi hamil, njir."

"Lo serius?" Pertanyaan ini datang dari siswi yang duduk di baris ke lima, ia tak sengaja mendengar cerita itu dan sekarang turut mencebur dalam obrolan.

"Serius. Gue denger langsung dari ibu-ibu pas syukuran di rumah gue. Ternyata dari kemarin, di kelas sepuluh juga udah rame. Nah, yang bikin gue nggak habis pikir sampe sekarang, ternyata selingkuhannya tuh Tante Ranti alias nyokapnya Lavi!"

"Gila. Masa, sih? Rena sama Lavi kan temenan dari kecil, masa bokapnya Rena nggak tahu itu ibunya Lavi?"

"Justru itu! Bisa jadi karena udah kenal dari lama, mereka jadi nyaman, terus selingkuh, deh. Gila anjir, jahat banget."

Kelihatannya Bita serta dua siswi lain masih skeptis. Maka demikian buat memastikan, Bita akhirnya menatap Alurra yang sejak tadi diam menyimak ketika ia yakin Alurra tahu lebih banyak.

"Emang bener, Al?"

Seketika empat pasang mata tertuju pada Alurra. Menunggu respons apa yang akan diberikan perempuan itu. Di luar dugaan, Alurra mengangguk perlahan. Anggukan kecil itu mampu membuat napas mereka tertahan secara bersamaan.

"Definisi buah jatuh nggak jauh dari pohonnya banget, ya. Kalau nggak salah, Lavi juga sempet ngerebut pacar Rena, 'kan?"

"Iya. Emang nggak ada bedanya ibu sama anak," kata Alurra terang-terangan. Persetan pada tanggapan mereka padanya setelah ia berkata buruk soal perempuan yang sempat menjadi teman dekatnya itu.

"Nggak nyangka banget seorang Lavi bisa kayak gitu. Selama ini dia kelihatan kayak orang baik soalnya."

"Terus ini kita biarin mereka duduk bareng lagi? Kasihan Rena nggak, sih? Mana dia anaknya nggak enakan, misal mau minta tukeran tempat duduk pasti nggak enak."

"Jangan, lah. Lo pindah kek, Bi, tukeran sama Rena. Biar entar Rena duduk sama Al."

"Lah, ogah banget. Kenapa nggak lo aja?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 12 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

FOOLAFFAIR Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang