Dua hari Rena tidak berangkat, Alurra sudah kelimpungan dibuatnya. Bagaimana tidak? Alurra itu sebetulnya tidak jauh berbeda dari Rena, sama-sama kalau kemana-mana harus ada temannya. Terus manusia yang mau menemaninya ke mana saja cuma Lavi sama Rena. Kalau Rena tidak ada, Alurra jadi bingung mau ngajak siapa pas ke kamar mandi buat ganti pembalut yang biasanya sangat lama. Ya, meski tetap saja untungnya Alurra tidak se-anti sosial Rena. Jadi meski tak ada teman dekatnya, dia masih bisa menclok ke siapa saja alih-alih mendadak menjadi siswi terkucilkan. Khusus urusan ganti pembalut, Alurra ngajak Fio walaupun cewek itu terus bertanya kapan selesai setiap tiga menit sekali.
Sekarang, tepatnya di parkiran, enam orang yang katanya kehilangan Rena itu lagi pada rempugan perihal menjenguk Rena. Berdasarkan keterangan dari wali kelas dan ketua kelas, katanya Rena lagi sakit makanya tidak berangkat. Tapi sewaktu Alurra, Fio, serta Renan chat bahkan sampai telepon ke Rena, tak ada yang dapat jawaban. Makanya Alurra mengajak Yaksa sama Fio buat jenguk Rena. Karena Fio ikut, Rajev juga ikut buat mengantar, lalu Jaidan itu tidak mau ketinggalan. Kalau soal Renan, dia memang ada perlu dengan Rena soal club futsal. Jadilah sekarang semuanya bergerombol di parkiran.
"Rombongan pake mobil Mas Rajev aja gimana? Biar enak komunikasinya." Fio memberi saran yang langsung ditolak Renan.
"Ogah, ah. Males gue, kejauhan ambil motornya."
Padahal niat Fio menyarankan demikian tuh karena mereka kan berencana mau beli buah tangan di jalan, misalnya mereka jadi satu rombongan pasti akan lebih gampang ke mana-mananya.
"Gue anter lagi ke sini, njir," ujar Rajev yang satu pendapat dengan Fio.
"Terus mau bawa motor sendiri-sendiri, gitu? Kaya mau iring-iringan aja," gerutu Fio.
"Tahu, tuh," timpal Alurra. "Ya udah, lah, kalau mau bawa motor sendiri-sendiri, daripada kelamaan debat bisa-bisa Rena keburu sembuh."
"Oke. Siapa yang tahu rumah Rena?" Kali ini Jaidan yang bertanya.
"Gue!"
"Aku!"
Lima dari mereka kompak menjawab, alias Jaidan jadi manusia satu-satunya yang tidak tahu di mana rumah Rena. Satu fakta itu cukup mengusik relung pikir Jaidan dan membuatnya agak dongkol. Namun, tak sudi rasanya ia memprotes hal sesepele ini. Terutama di hadapannya sekarang adalah para cunguk yang tak akan segan memberinya ucapan tak layak dengar.
Akhirnya, usai dengkusan singkat, ia berucap, "Berhubung tahu semua, bawa motor sendiri-sendiri aja. Yang penting Rajev di depan, soalnya entar dia yang bawa makanannya."
Tak butuh perdebatan panjang, ujaran Jaidan disetujui lima orang lainnya. Fio tak memberi saran lain, Renan pun tak mendebat lagi. Maka dengan itu rombongan mereka pun betulan meninggalkan sekolah dengan mobil Rajev di depan, posisi kedua Renan, disusul Jaidan, lalu Yaksa bersama Alurra berada di paling belakang berjaga takut Renan nyasar atau Jaidan ketinggalan rombongan.
Satu setengah jam berlalu termasuk perjalanan serta waktu yang mereka habiskan buat mendebatkan buah tangan untuk Rena, kini keenamnya telah tiba di depan gerbang rumah tanpa satpam itu. Karena hal tersebut, Fio mesti turun dulu buat membuka gerbang sebab gerbang yang terbuka cuma muat satu motor.
"Gile, udah kek mau lamaran aje, njir. Kurang baju doang ini." Revan menceletuk demikian sambil mengeluarkan brownies dari dalam mobil. Setelahnya menyusul Rajev, Fio, Jaidan, Alurra, serta Yaksa yang sudah menunggu di depan pintu, dengan sekotak makanan di masing-masing tangan mereka.
Itulah hasil dari perdebatan tadi. Tak ada satu makanan final yang bisa mereka putuskan, jadinya ketimbang keburu malam, Alurra menyuruh buat membeli semua opsi, walaupun semuanya Rajev yang bayar.
KAMU SEDANG MEMBACA
FOOLAFFAIR
Novela JuvenilKarena prinsipnya yang enggan menjadi pihak pemutus hubungan, Serena Zephyra harus menjalankan hubungan abu-abu yang tak jelas arahnya ketika perselingkuhan sang kekasih dengan sahabatnya terungkap. Di satu sisi, ia ingin melepaskan diri dari ikata...
