Elard merangkul Rain agar mengikutinya, berbalik dengan yang lain menuju kelas. Elard membawa Rain menuju atap agar tidak ketahuan jika mereka membolos.
"Ngapain lu bawa kesini? Yang lain kaga ikutan ?" Tanyanya dengan heran, sebab tak biasanya mereka hanya membolos berdua
Elard terdiam sebentar, ia bersandar pada pintu rooftop dengan tangan terlipat di dada. "Bisa lu jelasin yang di kantin tadi?" Tanyanya tanpa basa basi. Yah, dia cukup peka dengan keadaan di kantin tadi
Tanpa bersalah Rain menjawab, "Yang mana?" Balasnya sembari mengeluarkan sebatang rokok yang di simpannya di saku.
Elard berdecih pelan. "Lu paham apa yang gua maksud. "
Rain mengedikkan bahunya acuh, "Gua cuma tanya."
"Apa yang lu lihat?" Tanya Elard tak menyerah
Lelaki dengan wajah kalem itu melirik sekilas Elard sebelum menghembuskan asap rokok yang berbaur dengan udara. "Gua lihat Randi sama Guntur di ruang osis." Balasnya. Ia menunggu respon dari lelaki yang tengah bersandar itu.
"Lu ga kaget?"
"Harus banget?"
Rain berdecih. Keheningan melanda diantara mereka. Elard sudah duduk di sofa usang di sudut rooftop. Mengeluarkan rokok serta pematiknya.
Sedangkan Rain masih sibuk dengan pikirannya. Ia menatap Elard dengan lekat, samar ingatan tentang-ah, Rain paham sekarang. Kakinya melangkah mendekat dimana Elard tengah bersantai
"Gua paham sekarang kenapa lu ga buat respon kayak gua, jangan bilang lu-sial gua geli bayanginnya. Lu sama adek kelas itu ? Lu ikutan?" Tanyanya beruntun
Elard tak membalas, ia hanya sibuk dengan kegiatan-melamun.
"Sial, gua baru sadar sekarang!" Ucap Rain membuang putung rokoknya dan mengusak rambutnya seolah frustasi.
Respon dari Rain itu wajar okey? Kalian tidak boleh menghakimi. Rain masih tak menyangka dengan kebenaran yang baru ia ketahui. Apakah yang lain tahu tentang hal ini ? Ia tak bisa berpikir jernih saat ini. Kedua temannya, homo? Rain harap ini hanyalah mimpi aneh di siang bolong, tapi melihat Elard yang dengan santai menanggapinya mustahil jika ini mimpi. Pantas saja tingkah lelaki itu aneh belakang ini. Seperti bukan Elard.
Paham dengan mimik wajah teman karibnya, Elard hanya terkekeh pelan. Tingkah Rain yang frustasi membuatnya terhibur. Ia juga baru menyadari jika dia tertarik dengan Lio. Ya, siapa sangka ia harus berbelok seperti ini? Nasib tidak ada yang tahu bukan. Toh, Elard juga tak menginginkannya.
"Akhgg otak gua ga habis pikir sama kalian! Apa yang lain tahu juga?" Elard mengedikkan bahunya malas. Rain berdecak kasar dan bergabung dengan Elard, walau ia duduk dan menjaga jarak dengan lelaki itu.
"Kenapa lu ?"
"Takut ketularan." Jawab Rain. Bukannya tersinggung, Elard malah tertawa mendengar balasan dari Rain.
♧°°°●°°°♧
Udara malam terasa dingin menyengat kulit. Di bawah langit yang sunyi, cahaya lampu dari gedung tinggi menjadi penerangan. Nampaknya sang rembulan tak ingin menampakkan dirinya, seolah tengah bersembunyi.
Rain duduk tenang menatap pantulan dirinya di air yang tenang. Ia tengah berada di taman pinggir kota. Kali ini tak banyak pengunjung. Tak ada kebisingan, hanya kesunyian yang dibelah oleh suara jakrik bersahutan di balik semak dan desau angin yang menggoyangkan dedaunan.
Pikirannya kembali pada siang tadi. Huh, ini membuatnya syok berat. Bukan hanya satu orang, TAPI DUA! Apa ga stres Rain memikirkan. Kedua temannya entah bagaimana bisa menjadi begini. Ia tak habis pikir, mengapa bisa hal itu terjadi-maksudnya, mereka dulunya suka dengan perempuan tapi sekarang berubah menjadi suka laki-laki yang notabenya sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
HEAD Over HEELS [BL]
RomanceAdelio itu cowok yang pekerja keras. Sangking bekerja kerasnya dia sampai di kejar-kejar rentenir. Bukan dia yang utang tapi kedua orang tuanya. Akibatnya,bdia harus menanggung semua hutang kedua orang tuanya yang telah meninggal. Sekolah-kerja-pul...
![HEAD Over HEELS [BL]](https://img.wattpad.com/cover/342704312-64-k128190.jpg)