Tanpa sadar mereka sudah sampai di restoran yang di tuju. Lio diam dan mengikuti lelaki tegap itu dari belakang. Matanya menatap suara serta interior dari bangunan itu. Benar-benar terkesan mewah dan mahal. Persis seperti bayangan Lio. Tampat ini pasti pengunjung nya kaya semua, batinnya. Lio tak berani memikirkan berapa harga satu porsi makanan di menu. Lio tak mampu, jiwa miskinnya menjerit!
Mereka di arahkan oleh staf di sana. Lio tak paham, ia hanya mengikuti saja. Ternyata mereka naik kelantai atas. Lio menduga jika di lantai dua tempat orang-orang penting berkumpul.
"Ah sudah datang!" Seru Dominic menatap kedua pemuda yang ia tunggu akhirnya datang.
Staf itu mengundurkan diri setelah tugasnya selesai.
"Loh?" Lio terkejut melihat Lynda yang sudah duduk manis bersebelahan dengan Dominic. Tunggu, bagaimana bisa?
"Tunggu apalagi, duduk dan makanlah. Aku sudah memesan banyak makanan disini." Ucap Dominic dengan senyum lebar. Jarang jarang ia memiliki waktu seperti sekarang. Ia sudah muak melihat tumpukan kertas di ruang kerjanya.
"Bukannya kau masih berada di luar negri pak tua?" Tanya Elard setelah mendudukan dirinya
"Hoho ternyata itu selesai lebih awal." Balas Dominic sekenanya
Melihat dua pria dengan wajah persis itu tengah sibuk berdebat, Lio menggeser bangkunya mendekat pada Lynda.
"Lu kok disini sih?" Tanyanya berbisik dengan mata memantau
"Aku ga tau, tadi di jemput di sekolah. Abang tau, itu bikin heboh banget. Aku malu." Ucap Lynda dengan jujur.
Ia masih ingat jelas bagaimana respon orang-orang disana melihat dirinya di jemput oleh seorang supir dengan mobil mewah. Apa tidak menyala mulut mereka untuk membicarakan dirinya yang tidak tidak? Bahkan, ada seseorang dengan jelas mengatainya. Yah, siapa yang tidak mengenal dirinya? Bukan sebagai cewek famous namun sebagai gadis miskin yang beruntung memiliki otak cerdas. Panggilan itu sudah melekat padanya. Tentu saja Lio tak mengetahui nya, jika lelaki itu tahu sudah di pastikan apa yang akan terjadi kedepannya.
Lynda mengenal Lio dengan baik. Lelaki itu cukup gegabah dan sembrono. Makanya dirinya tak pernah mengadu ini itu pada Lio. Dia tak ingin membuat keributan dengan mengadu. Selagi masalah itu bisa ia selesaikan sendiri, lebih baik Lio tidak pernah tau.
"Gua juga kaget tiba-tiba di tarik buat ikut kesini. " bisiknya.
Keduanya kembali fokus pada Dominic. Pria setengah abad itu berceloteh tentang perusahaannya dan beberapa kali bertanya yang di balas sekenanya oleh dua bersaudara itu.
"Cukup! Kau sungguh cerewet!" Decak Elard
"Lihatlah anak durhaka itu." Elard memutar bolamatanya jengah.
"Baiklah karena kalian baru pulang sekolah pasti lapar jadi mari kita makan." Titah Dominic
Mereka pun segera menyantap hidangan di depan mereka dengan tenang. Berbeda dengan Lio dan Lynda yang berdecak kagum saat sesuap daging masuk kedalam mulut mereka. Rasa gurih, manis serta tekstur dari daging itu sendiri benar-benar sangat menganggumkan. Pasti para juru masak begitu hati-hati dalam menyajikan nya.
"Bagaimana ? " Tanya Dominic menatap reaksi kedua kakak beradik itu. Mereka tersenyum malu atas sikap kampung mereka.
"Benar-benar enak pak" Jawab Lynda
Dominic terkekeh, " Kalau begitu habiskan jika kurang aku akan memesan lagi."
"Dominic?" Sebuah suara mengintrupsi mereka untuk berhenti makan dan menatap sang pemilik suara. "Kau Dominic bukan ?"
KAMU SEDANG MEMBACA
HEAD Over HEELS [BL]
RomantizmAdelio itu cowok yang pekerja keras. Sangking bekerja kerasnya dia sampai di kejar-kejar rentenir. Bukan dia yang utang tapi kedua orang tuanya. Akibatnya,bdia harus menanggung semua hutang kedua orang tuanya yang telah meninggal. Sekolah-kerja-pul...
![HEAD Over HEELS [BL]](https://img.wattpad.com/cover/342704312-64-k128190.jpg)