71. GUGURNYA KETUA ITU

4 0 0
                                        

JENG-JENG, TIBA-TIBA UP YA, HEHE. AUTHOR LIAT KO, KALIAN INGIN CERITA INI LANJUT KAN? AYO, LANJUTIN SAMPAI SELESAI.

ETTTS.. SEBELUM ITU, VOTE AND KOMEN. KALAU GAK AUTHOR NGAMBEK LO...

OKE, SUDAH SIAP? SIAPKAN CEMILAN, SIAPKAN MINUM NYA SERTA SIAPKAN HATI YA..

Setiap orang punya masanya, dan mungkin masa kita untuk bersama tidak sampai di kehidupan berikutnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Setiap orang punya masanya, dan mungkin masa kita untuk bersama tidak sampai di kehidupan berikutnya.

****
Di dalam keheningan malam yang begitu pekat, di kamarnya yang terasa begitu luas namun dingin, gadis berjepit kupu-kupu itu hanya mendengar suara jarum jam yang terus berdetak-tik... tik... tik-seakan menegaskan bahwa waktu tak pernah berhenti, tak peduli seberapa hatinya ingin berhenti saja. Udara di kamar ini terasa kaku, sepi menyelimuti setiap sudutnya, seolah tak ada lagi kehangatan yang pernah singgah di sini. Langit-langit kamar yang remang-remang seakan menekan dadanya, membuat napasnya terasa berat, sepi yang tak bisa diusir hanya dengan menyalakan lampu.

Adara menatap kalender sobek di depannya. Tanggal 20, ia belum merobek tanggal pada hari ini. Srrekk... Kalender itu disobek pelan, tanggal berubah menjadi 21. Itu artinya sudah dua puluh satu hari ia tidak bertemu dengan ketua. Dua puluh satu hari yang terasa selamanya.

Atensi gadis berjepit kupu-kupu itu teralih pada buku yang tergeletak di atas nakas-buku yang diberikan Kapten beberapa waktu yang lalu, tapi entah kenapa sampai sekarang Adara tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk membuka setiap lembarnya. Seolah di dalamnya tersimpan kenangan yang akan merobek hatinya berkeping-keping jika disentuh.

"Aku selalu menitip doa, di waktu yang sepi, saat dunia sedang terlelap. Hanya karena aku rindu kamu, Alghar."

Adara menjatuhkan dirinya ke tempat tidur yang terasa begitu dingin dan kosong, menatap langit-langit kamar yang samar-samar terlihat dalam gelap. Padahal waktu sudah sangat larut malam, namun kedua netranya tak kunjung bisa terpejam. Hatinya terasa hampa, sepi, dan entah sejak kapan ada rasa takut yang merayap pelan di dadanya-sesak, gelisah, seakan ada sesuatu yang hilang dari tempatnya, dan ia sendiri pun tak tahu mengapa. Kesepian ini bukan lagi sekadar suasana, tapi sudah menjadi bagian dari dirinya yang terluka.

Adara meraih handphone yang sedari tadi berbunyi pelan, memecah kesunyian malam itu, menandakan ada pesan masuk.

Alvin Raden Revaldo: Ra, bisa liat ke arah jendela sekarang!

Mendapati pesan itu, jantung Adara berdebar tak menentu. Ia lekas beranjak dari tempat tidurnya yang dingin, kakinya melangkah pelan di atas lantai yang terasa sejuk, berjalan ke arah jendela kamarnya, lalu menyibak gorden yang tipis. Di bawah sana, di bawah cahaya lampu jalan yang remang, ada Alvin yang sedang berdiri di depan kap mobilnya. Wajahnya terlihat tegang, seakan menanggung beban berat yang tak bisa diucapkan begitu saja.

Alvin Raden Revaldo: Pasti lo heran, kan, kenapa gue datang tengah malam ini ke rumah lo?

Terlihat di bawah sana Alvin sibuk dengan handphone di tangannya, ekspresi wajahnya sulit dijelaskan-cemas, terburu, namun tertahan. Ia beberapa kali mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi, seakan kata-kata itu terlalu berat untuk dikirimkan.

Alvin Raden Revaldo: Bisa ikut gue ke RS sekarang? Gala kritis, Ra.

Dunia Adara seakan berhenti berputar seketika. Dinginnya malam, sepinya kamar, dan sakit karena rindu yang tertahan-semuanya kini tertimpa satu kabar yang membuat kakinya lemas.

****

HEY ALGHAR Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang