Part 1

123K 4.9K 56
                                        

Hai, readers.. Cerita baru udah di mulai nih^_^ semoga kalian suka ya.. Dan part awal ini aku dedikasikan untuk chi2ndhewi yang udah bikinin cover buat cerita ini, kamsahamnida ya kak:-)

ok, kita mulai aja ya... Happy reading:-)

***

Tristan, Jangan tinggalkan aku...
Aku ingin bermain denganmu...
Apa kau mau menganggapku sebagai kekasihmu?
Saat kita besar nanti, bagaimana jika kita menikah saja?
Aku menyukaimu...

Dahi lelaki itu mengernyit, matanya tertutup, keringat dingin membasahi pelipis dan seluruh wajahnya, kedua tangannya terangkat berusaha menggapai sesuatu, sedangkan mulutnya tak henti-hentinya menggumamkan sebuah kalimat yang lelaki itu pun tak tahu pasti apa yang dia katakan. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan, mencoba mencari asal suara yang terus menggema di telinganya itu.

Putraku, pergilah... Jangan hiraukan Ibu.. Kau harus selamat dari bahaya..

Kepala lelaki itu semakin bergerak gelisah, tubuhnya pun berkeringat, Mulutnya megap-megap seolah-olah kekurangan oksigen untuk bernafas. Hampir saja lelaki itu termakan mimpinya sendiri jika saja tak ada suara berat yang merasuki pikirannya seketika.

"Hei, Tristan... Wake up!" seru seseorang sembari mengguncang-guncang tubuh lelaki itu.

Mata lelaki itu membuka perlahan, berusaha menormalkan nafas beratnya dan kemudian matanya bergerak menjelajahi tempatnya berada sekarang, mengabaikan kehadiran seorang lelaki bertelanjang dada yang tengah memandanginya dengan cemas.

"Aku di mana?" tanyanya lirih.

Ekspresi cemas lelaki di hadapannya berubah menjadi jengkel seketika. "Kenapa selalu itu yang kau tanyakan jika kau ketiduran di tempatku hah? Memangnya apa sih yang kau mimpikan barusan?"

Lelaki bernama Tristan itu mengerjapkan mata. "Tidak. Aku tidak bermimpi apa-apa." ucapnya tak yakin.

Lelaki di hadapannya menyipitkan mata abu-abu menawannya lalu mendesah. "Kenapa kau selalu seperti ini? Menyembunyikan sesuatu sendirian? Apa kau lupa kalau kita sudah berteman sejak kecil?" tanyanya sembari mengusap rambutnya yang berwarna cokelat terang dengan handuk kecil dan kemudian beranjak ke walk in closet yang terletak di sebelah kiri kamar pribadi lelaki itu yang bernuansa gelap, semua furniture di dalam kamar itu nyaris berwarna hitam di mulai dari lemari rias bergaya eropa, ranjang besar yang Tristan tiduri, cabinet, sampai barang eletronik. Hanya lantai marmer dan dinding ruangan itu yang berwarna putih polos.

"Tidak ada yang ku sembunyikan, Chad." tukas Tristan seraya memijit pelipisnya perlahan.

Lelaki bernama lengkap Chad Winston itu keluar dari walk in closet dengan mengenakan pakaian santai berwarna merah dan celana jeans belel berwarna hitam. Lelaki itu kemudian mendengus saat melihat kondisi kemeja putih Tristan yang acak-acakan dan celana kain hitamnya yang tidak terkancing melorot hingga pinggulnya. "Pantas saja Brayden dan Alan selalu mengeluh saat mereka bersamamu. Kau itu benar-benar membuat pamor kita sebagai lelaki gentle dan normal menurun dalam sekejap. Apa kau tidak ingin merubah image-mu yang 'agung' itu di depan gadis-gadis muda yang selalu mengejarmu?"

Tristan bangkit perlahan seraya merapikan pakaiannya. "Agung? Apa maksudmu?" mata hazel-nya tak lepas memandangi Chad dengan bingung.

"Masa kau tidak tahu?"

"Jika aku tahu, aku tidak akan bertanya padamu, Chad."

Chad mendekati Tristan sambil berdecak. "Begitu saja tidak tahu. Kau ini bodoh atau tidak peka sih? Yang ku maksud agung itu tentu saja gay, Tristan. GAY. "ulang Chad yang memiliki tinggi lebih pendek lima senti dari Tristan yang bertubuh kekar dan menjulang hingga 187 cm.

The Target ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang