Extra Part 2

57.3K 2.3K 129
                                        

Karena banyak permintaan, aku post ulang deh...

Oh ya, di bagian akhir akan ada 18+ aku harap kalian bisa berpikir bijak=)

***

6 years Later

"Sweetheart..."

Tristan menggumamkan panggilan kesayangan itu dengan lembut, berusaha membangunkan istri tercintanya dari tidurnya yang lelap dan juga nyaman. Bergelung dengan sebagian tubuh tertutup selimut tebal berwarna dark brown, Clarisse tampak polos dan menggoda tatkala tubuhnya bergerak pelan, membuat selimut itu turun lebih rendah dari tempat sebelumnya.

"Sweetheart..."

Merasa tak di tanggapi Clarisse, seulas senyum tipis pun terbit di bibir Tristan. Lelaki itu kemudian melintasi kamar dan duduk di sisi ranjang, menyibak halus ikal-ikal kecokelatan milik Clarisse yang menghalangi pandangannya dari wajah wanita itu. Perlahan, jemari-jemari panjangnya menelusuri lengan telanjang Clarisse, mengusap lembut lalu mengakhirinya dengan satu kecupan singkat di bahu polos wanita itu.

"Hei, Wake up, Mom..." bisik Tristan begitu bibirnya sengaja memberi kecupan-kecupan kecil di telinga Clarisse, membuat wanita itu menggeliat dan mendesah pelan.

Membuka penglihatannya perlahan-lahan, Clarisse tersenyum samar dengan mata biru yang masih terlihat mengantuk. "Jam berapa sekarang?"

"Jam tujuh pagi..."

Bergeming di posisinya, Clarisse membiarkan Tristan menciumi bahu telanjangnya. Sementara tangan lelaki itu bergerak pelan-pelan, menarik turun selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. "Hentikan, suamiku..."

"Sstt..." bisik tristan serak. Ia tak menggubris larangan istrinya tatkala bibirnya mengecup sisi leher wanita itu, menyusupkan kepalanya untuk memberikan ciuman panas di daerah favoritnya tersebut. "I miss this moment..." entah mengapa niatnya yang ingin membangunkan wanita itu justru menghilang ketika melihat penampilan Clarisse yang menggoda.

Clarisse bertahan untuk tidak mengeluarkan suara desahannya ketika bibir Tristan menjelajahi area dada atasnya yang bebas dari selimut yang menaunginya. "Tristan, Nanti mereka--"

"Mereka masih tidur." sahut Tristan cepat. Lelaki itu bergerak ke sisi ranjang lainnya, menaikinya lalu memeluk Clarisse dari belakang, menyalurkan kehangatan dari tubuhnya yang hanya di lapisi kaos polo berwarna putih. "Rasanya sudah lama sekali aku tidak memelukmu seperti ini, sweetheart..." ucapnya sambil menciumi rambut Clarisse.

Clarisse tersenyum. "Bukankah hampir setiap malam kita menghabiskan waktu bersama-sama?"

"Itu tidak sama." Tristan mendesah pelan. Ia menyusupkan sebelah lengan kekarnya ke dalam selimut dan membelai halus perut telanjang istrinya. "Apa kau lupa kalau kita tak pernah seperti ini lagi di pagi hari?"

Menyadari satu hal, Senyuman Clarisse kian melebar. Ia tentu menikmati kebersamaannya dengan Tristan pada awal-awal pernikahan yang terasa membahagiakan. "Tentu saja aku tidak lupa, suamiku... Tapi semuanya terasa lengkap bukan?"

Tristan terdiam sejenak lalu tersenyum tipis. "Ya. Kau memang melengkapi hidupku, sweetheart. Ah, bukan hanya dirimu saja sebenarnya..." ia semakin melekatkan dirinya pada Clarisse, memberi ciuman di belakang lehernya dan membuat wanita itu menahan napas. "Tapi sayangnya, waktu kita untuk bersama-sama jadi berkurang dan tidak sama lagi seperti dulu. Aku pikir, kita mungkin memerlukan waktu untuk berbulan madu kembali." bisiknya serak.

Mata Clarisse mengerjap bingung. "Bulan madu lagi? Lalu bagaimana dengan--"

"Mereka bisa menunggu di sini. Bersama Ibumu tentunya."

The Target ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang