Bab 34 Don't Leave Me

2.2K 125 2
                                        

Gelap. Ruangan berwarna hitam mengelilinginya. Memaksanya terbangun dari tidurnya. Bella menatap sekeliling dengan bingung.

"Ini dimana?" Gumamnya.

Tak ada pemandangan apapun disana. Hanya gelap yang menemaninya. Ia sendirian, di tempat yang ia tidak tahu dimana. Tubuhnya meringsut mundur tatkala ada suara geraman yang memenuhi ruangan ini. Ia takut.

Kegelapan masih menyelimutinya, mengelilinginya hingga setitik cahaya muncul dihadapannya. Dengan ragu Bella melangkah maju. Ia hendak berhenti tapi kakinya seakan memiliki kehendak lain. Kakinya terus membawanya mendekati cahaya kecil itu.

Semakin jauh cahaya itu semakin besar, berwarna putih mulai mengelilinginya. Ia masih terus melangkah maju. Kali ini ia maju atas kemauannya sendiri, mengambil alih kakinya yang tadinya bergerak sesuka hati.

Bella menutup matanya saat cahaya itu semakin terang. Masih sambil berjalan, ia menutup mata. Tak perduli langkahnya membawanya kemana. Di pijakan terakhir ia berhenti. Membuka matanya dan menyesuaikannya dengan gradien cahaya yang ada di sini. Cahaya putih itu bergerumul di hadapannya lalu perlahan membias ke penjuru ruang kosong. Cahaya itu berhenti di beberapa titik. Membentuk sebuah pola lalu tak berapa lama cahaya itu menghilang. Tergantikan dengan beberapa pintu berbagai bentuk dan ukuran.

Bella berputar, mengelilingi satu tempat hanya untuk melihat semua pintu itu. Ia berdecak kagum saat satu pintu berhasil menarik perhatiannya. Pintu itu berwarna putih sama seperti pintu lainnya. Yang membedakan hanya corak di pintu tersebut. Sulur-sulur panjang dengan warna yang sama namun sedikit timbul. Dari jauh sulur itu seperti membentuk sebuah kalimat. Tapi jika dari dekat sulur itu hanya merambat dari satu sisi ke sisi lain.

Bella berjalan mendekat, menatap pintu itu penuh minat. Walau sulur itu membentuk sebuah kalimat tapi ia tak terlalu bisa melihat tulisan itu dengan jelas. Bella semakin dekat dengan pintu itu. Tangannya terjulur menggapai gagang pintu yang terbuat dari sulur itu, tapi sebuah suara menghentikannya.

"Bella..."

Ia berbalik dan melihat seorang wanita dengan gaun putih panjang yang menutupi sampai tumitnya berjalan mendekati dirinya. Semakin dekat bayangan wanita itu mulai terlihat jelas. Mata Bella membulat sempurna dengan mulut yang menganga namun dalam sekejap berubah menjadi senyuman lebar.

"Mama..."

***

Semua orang menunggu dengan gugup di depan ruang UGD. Seorang pemuda berjalan bolak-balik dengan mata merah seperti habis menangis. Di depannya, tepatnya di sebuah kursi sepasang suami istri tengah duduk dengan tangisan yang juga menghiasi wajah mereka. Di depannya lagi seorang lelaki paruh baya hanya duduk dengan pandangan kosong. Matanya menatap pilu lantai putih di bawahnya. Isakan tertahan dari seseorang membuat mereka mendongak.

"Be..... bella...."

Wanita itu terduduk saat melihat sebuah ruangan. Di ruangan itu anaknya tengah terbaring melawan maut. Tadi ia dikabarkan jika anaknya, Bella mengalami kecelakaan. Dan dengan segera ia bergegas ke rumah sakit. Bahkan ia menghentikan kegiatannya yang sedang menyuapi suaminya. Ya, suaminya. Ia sudah mulai menerima Zen. Kecelakaan itu membuatnya tersadar kalau ia tak ingin kehilangan suaminya itu.

Di belakang wanita itu terdapat perempuan yang sebaya dengan Bella. Mata perempuan itu sama merahnya dengan semua orang yang ada di sana. Ia langsung berlari memeluk pemuda yang menatap datar padanya. Ia memeluknya tapi pemuda itu hanya diam tanpa membalas sedikitpun pelukannya.

Seorang dokter keluar dari ruang UGD dan langsung dikerubungi oleh beberapa orang disana.

"Bagaimana anak saya dok?" Tanya Farid memecah keterkejutan sang dokter.

Tangled LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang