"Do you really think that I will give up just like that?" - F. Kanaya
***
Tok...tok...tok...
Suara ketukan di pintu sama sekali tak dihiraukan olehnya. Ia masih saja duduk merenung di atas kasurnya. Menatap kosong pada figura di hadapannya. Foto yang diambil saat ia masih duduk di bangku SD. Senyumnya mengembang tatkala orang itu masih ada bersamanya.
"Kak?"
Fella baru mendongak saat suara yang sangat familiar membuyarkan kenangan yang baru ingin diingatnya. Terlihat Bella berdiri di hadapannya dengan tatapan sayu, tangannya ditaruh ke sisi tubuhnya dan ia memilih untuk memilin ujung roknya. Tanda kalau ia sedang gugup.
"Kenapa?" Jawab Fella datar.
"Eh, hm... itu.. kalo kakak ke-beratan, aku nggak a-"
"Aku nggak keberatan kok. Karena ya, Brian memang cintanya sama kamu. Aku juga udah move on kok. Jadi, jangan khawatir. Terima aja kalo memang itu yang kamu mau," potong Fella.
Senyum di bibir Bella mengembang. Ia langsung memeluk kakaknya itu, sambil menggumamkan kata 'makasih'. Fella membalas senyumannya dengan sama lebarnya. Lalu, Bella melepaskan pelukannya dan keluar dari kamar itu.
Di dalam Fella hanya mampu menghela nafas kasar. Ia kembali memandang figura itu. Dan, detik terakhir yang paling menyakitkan hadir kembali di ingatannya.
Fella terduduk di lantai saat mendengar dengan telinganya sendiri apa yang terjadi dengan Ayahnya. Ia limbung seketika. Pikirannya terus memutar perkataan kedua orang itu.
Nggak mungkin... ini nggak mungkin, gumamnya pada dirinya sendiri.
Hari demi hari berlalu dan Papanya masih dalam kondisi yang sama. Farid, papa kandungnya datang lagi ke ruangan Papanya. Ia melihat Farid berlutut di hadapan Mamanya. Ia pun ikut menangis saat melihat bagaimana pilunya wajah sang ayah kandungnya itu.
Brakk
Pintu terbuka dengan keras, kedua orang itu terkejut saat melihat Fella berdiri di sana. Fella menatap kedua orang itu bergantian.
"Nggak ada yang boleh ngambil mata Papa! PAPA PASTI AKAN BERTAHAN! KALIAN... kalian nggak boleh ngambil matanya... nggak boleh... nggak boleh..."
"Fella?"
"Kalian nggak boleh. Pa-papa pasti bisa selamat. Dia.... dia papa aku."
-
Fella berjalan dengan langkah gontai mengitari lorong rumah sakit. Ia berhenti saat mendengar suara tawa dari kamar yang berada di sebelah kirinya. Ia melihat dari jendela kecil di pintu dan hatinya sakit saat itu juga.
Ia bergegas pergi saat Brian berjalan keluar. Namun, ia terlalu lambat. Sehingga ia ketahuan tengah mengintip.
"Fella?"
"Eh, hai," ucap Fella agak kaku.
"Ikut aku. Ada yang ingin kubicarakan."
Brian berjalan lebih dulu membiarkan Fella mengikutinya dari belakang. Ia lalu berhenti di taman yang berada di sepanjangan koridor. Brian duduk di salah satu kursi dan Fella duduk tepat di sebelahnya.
"Maaf," Brian berucap seraya menunduk.
"Untuk?"
"Untuk semuanya," ujar Brian tulus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tangled Love
Teen FictionKedua hati yang menyatu, menyisakan perih di lain hati. Kedua insan yang mencinta, memberi luka pada insan lainnya. Kedua rasa yang mengelilingi, menghapuskan rasa lain di sekitar. Memang selalu ada cobaan, rintangan, hambatan, halangan, di saat dim...
