Bayangan Vally yang belakangan ini terlihat sangatlah dekat dengan Mike sering kali mengusik pikiranku. Masih sulit untukku menerima keadaan bahwa aku dan Vally benar-benar sudah selesai. Aku masih menyayanginya. Bahkan teramat sangat menyayanginya. Sedangkan sekarang, aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan sedang tertawa atau bahkan bercanda dengan Mike. Sahabatku itu jauh lebih bisa membuat Vally bahagia dibanding aku, yang lebih sering memberikan luka padanya. Aku adalah pengecut sekaligus pecundang yang bodoh.
Ya aku tau ini sangat tidak adil untuk Al. Aku sangat tau akan hal itu. Tapi sungguh, aku sudah mencoba untuk melupakan Vally dan berpaling pada Al, namun hasilnya nihil. Yang ada aku terus membayangkan Vally dan merasa bersalah kalau aku terus menjadikan Al sebagai pelarian. Al pantas mendapatkan orang yang lebih baik dariku. Sungguh. Lagi pula, aku tak mau merusak persahabatan kami. Aku takut kalau sewaktu-waktu aku menyakitinya dan kami harus berpisah, kami akan berubah menjadi strangers. No. That will never happen.
BRAK
Aku membanting keras pintu lokerku setelah mengambil beberap buku yang kubutuhkan untuk kelas pertama dan keduaku hari ini. Fisika dan Bahasa Spanyol. Haaaahh, aku benci keduanya. Untung saja aku sekelas dengan Calum di dua kelas itu, setidaknya kelas tidak akan semembosankan itu. Aku pun mencoba untuk menghubungi Calum dengan ponselku, siapa tau ia sudah sampai.
BRUK
Baru saja aku mengklik send pesanku, seseorang sudah menabrakku. Oh mungkin lebih tepatnya kita saling menabrak karena, aku langsung reflex menarik tubuh mungil yang nyaris jatuh kedalam pelukanku. Sial. Ini terkesan terlalu drama dan aku benci itu. Tapi tunggu, dia? Vally?
"Ehm."
Aku tersentak begitu mendengar suara seseorang yang membuat fake cough. Dia Eii. Aku pun buru-buru melepaskan rangkulanku pada bahu Vally yang baru ku sadari pipinya sudah merah padam. Astaga. Can she just stop being cute?!
"Umm, kau tak apa?" tanyaku kikuk. Astaga. Aku bahkan bisa merasakan kerja jantungku yang bekerja jauh lebih cepat dari biasanyanya. Ini adalah kontak fisik pertama kami semenjak keputusan sepihaknya untuk hubungan kami.
"Yeah," jawabnya singkat. Ia masih menundukkan kepalanya. Aku tau ia pasti juga merasa kaget sama sepertiku.
Terjadi kecanggungan diantara kami bertiga. Aku masih berusaha untuk mengontrol detakan jantungku. Berbagai macam pertanyaan dan pernyataan yang ingin aku lontarkan pada Vally membuat kepalaku ingin pecah. Aku tak tahan ingin mengungkapkan semua yang kurasakan selama hampir sebulan ini mencoba untuk menjauhinya. Ini rumit. Aku tak ingin keadaan semakin buruk tapi aku tak bisa terus menahannya lebih lama.
"Umm, Eii," panggilku pada Eii yang terlihat bingung dengan situasi saat ini. "Bisakah aku membawa Vally sebentar? Aku ingin berbicara padanya."
Eii terlihat bingung. Aku bisa melihat meminta pendapat Vally melalui pandangan matanya. Ah, kalau sudah seperti ini, pasti Eii akan lebih memilih untuk menuruti permintaan Vally dibandingkan permintaanku tadi.
"Maafkan aku Luke," jawabnya setelah beberapa lama sambil melihat jam tangannya. "Aku dan Vally harus menyelesaikan tugas kami yang harus kami kumpulkan pagi ini, lain waktu saja ya?"
Ku hembuskan nafas kasarku. Bagaimana pun juga, aku harus berbicara pada Vally cepat atau lambat karena aku tak mau membuat keadaan semakin rumit dan menyakiti Al semakin lama. Ya, aku masih memikirkan perasaan Al tenang saja.
"Baiklah. Ku mohon temui aku besok sore di Starbucks dekat rumahmu. Aku benar-benar harus membicarakan ini padamu, Val," kataku memohon, berusaha untuk menarik perhatian Vally yang sejak tadi menundukkan kepalanya. Aku tau kalau ia sesungguhnya sudah tak ingin berhubungan denganku.
KAMU SEDANG MEMBACA
CALUM //c.h [AU]
FanfictionAwalnya terlihat, ia bukanlah apa-apa dalam kisah ini. Ia lebih banyak diam dan tak mengambil banyak peran. Tapi dibalik semua itu, kalian akan tau bahwa ia memang pantas menjadi, peran utama.
![CALUM //c.h [AU]](https://img.wattpad.com/cover/23673400-64-k52322.jpg)