Aku menyeruput frapuchino caramel favoriteku sampai tinggal setengah gelas. Hari ini sungguh panas. Entahlah, aku bingung mengapa di musim gugur seperti ini justru cuacanya begitu panas. Aku melirik lelaki yang wajahnya sedikit Asia yang duduk di sebelahku. Ia tengah serius membaca sebuah buku fisika yang cukup tebal. Oh really? Ini baru hari pertama masuk setelah summer dan dia sudah belajar?!
"Cal..." panggilku.
"Hmm..." aku mendengus pelan mendengar responnya. Ia sama sekali tak melepaskan pandangannya pada buku. Anak ini selalu saja asik dengan dunianya.
"Calum."
"Hmm..." Ia masih sibuk membolak-balikkan buku yang di bacanya dan terus menghiraukanku. Bagaimana bisa aku berteman dengan makhluk seperti dia Tuhaann???!!!
"Calum Thomas Hood! Astaga, bisakah kau mendengarkan ku sebentar saja?"
Calum menutup buku fisika yang sejak tadi di bacanya sambil mendengus pelan. Ia menatapku dengan tatapan kesalnya. Hahaha. Akhirnya aku berhasil menarik perhatiannya.
"Ada apa Nona Howards? Kau sangat tau bukan, kalau aku tak suka diganggu kalau sedang membaca?"
Aku mengangguk pelan sambil tersenyum lebar. Aku suka menggodanya kalau ia sedang membaca. Pasti akan selalu berakhir seperti ini. Karena apa? Karena Calum tak pernah tega untuk mendiamkan ku dan membuatku cemberut sampai merengut selama 3 hari ke depan.
"Aku bosan. Kita ini duduk berdua tapi kau mendiamkan ku dan lebih asik membaca buku maha dewa itu. Oh ayolah Cal, kau tak akan berubah menjadi bodoh hanya karena tidak membaca buku menyedihkan itu selama sejam," kataku sambil kembali menyeruput frapuchino caramelku.
"Kalau begitu, kenapa kau duduk disini? Carilah yang lain kalau kau merasa bosan."
Aku memutar bola mataku kesal dan kemudian kembali meminum frapuchino caramel yang nyaris habis. Malas merespon jawabannya yang tedengar dingin itu. Ia memang tak pernah berubah. 8 tahun sudah aku mengenalnya dan pubertas hanya merubah fisiknya saja, tidak dengan sifat dan kepribadiannya.
Aku bahkan sempat bingung apa yang membuatnya tetap dingin dan cuek seperti ini. Terutama pada para gadis yang menggilainya. Ia bahkan bisa menolak semua kencan dan coklat yang di berikan gadis-gadis itu dengan kata yang cukup menusuk. Tidak seperti Michael yang akan senang hati menerima semua ajakan kencan, apalagi coklat-coklat itu. Apa itu karena Calum masih memikirkan gadis itu?
"DOR!"
"Uhuk. Uhuk. Uhuk!" Aku memukul pelan dadaku sambil terbatuk-batuk. Seseorang berambut blonde kini sedang tertawa terpingkal-pingkal sambil duduk di hadapanku, diikuti dengan lelaki keriting di sebelahnya. Sialan. Anak ini rupanya yang mengagetkanku. Untung saja frapuchino caramel yang baru saja ku minum tak menyembur keluar.
"Kalau minum itu pelan-pelan sedikit, Nona Howards."
"Fuck ya, Hemmings! Kalau aku mati tersedak bagaimana?!"
"Ku rasa itu tak akan mungkin terjadi Al."
"Kenapa kau membelanya Ash? Aku hampir kehabisan nafas tadi, kau tau?!"
"Hahaha, tak ada yang membela mu kali ini."
Aku mendengus kesal. Ku tatap Luke dan Ashton yang kini tengah ber-highfive ria sambil tertawa kecil. Mereka berdua memang selalu kompak untuk mengerjaiku. Dan aku selalu tak pernah mendapat belaan dari siapapun kecuali Calum. Itu pun kalau ia sedang dalam mood yang bagus. Oh aku lupa kalau ada satu lagi makhluk yang selalu menjadi komplotan Luke dan Ashton. Kemana anak itu?
"Cal, katakan pada mereka kalau kau membelaku," rengekku sedikit manja. Aku menarik-narik kecil ujung kemeja yang di kenakannya karena ia kembali membaca buku tebal yang menurutku lebih mirip dengan batu bata.
KAMU SEDANG MEMBACA
CALUM //c.h [AU]
FanfictionAwalnya terlihat, ia bukanlah apa-apa dalam kisah ini. Ia lebih banyak diam dan tak mengambil banyak peran. Tapi dibalik semua itu, kalian akan tau bahwa ia memang pantas menjadi, peran utama.
![CALUM //c.h [AU]](https://img.wattpad.com/cover/23673400-64-k52322.jpg)