Rasa-rasanya, diriku sudah mengalami hal-hal buruk yang umum menimpa manusia yang masih hidup di bumi.
Kehilangan orang tua di usia muda? Sudah kualami.
Hidup sendiri dan bermusuhan dengan kakak kandung sendiri? Sedang kualami.
Aku tahu keadaan buru...
Ketika jarak hanya satu ruangan lagi, kerlipannya mendadak lenyap.
Langkah kami pun terhenti.
"Kema--"
TukTukTuk!!
Aku kembali menutup mulut.
Terdengar suara ketukan kaca yang berasal dari tempat kerlipan sebelumnya.
Sam pun kembali menyalakan senternya.
Pats!
Kami terlonjak kaget ketika melihat wajah pucat Gerald yang dipenuhi ketakutan berada dibalik jendela utama ruangan admin itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gerald ternyata menyalakan cahaya kerlipan SOS itu dari lampu ponselnya.
Dengan gemetaran parah kami melihatnya menunjuk-nunjuk panik kearah pintu ruangan sebelumnya yang telah kami lewati.
Astaga!
Sam buru-buru mematikan lagi senternya.
Ruangan yang ditunjuk Gerald pintunya sedikit terbuka. Didalamnya terlihat agak terang hasil sinar dari lampu halaman yang masuk menembus jendela.
Karena penasaran, Sam mendorong sedikit pintunya.
As..taga Tuhan!!
Langsung kami melihat sekitar sepuluh zombie yang berdiri disudut ruangan, menghadap tembok. Menunduk. Mereka terlihat sedang (walaupun terdengar aneh) tidur.
Iya tidur, tidur sambil berdiri.
Walau dalam keadaan terlelap mereka tetap tampak mengerikan dengan bercak darah melumuri tubuh mereka.
Kami saking ketakutannya tidak mampu mengeluarkan suara apapun. Hanya mengeluarkan bunyi suara napas tercekat.
Aku berpikir ingin mengulurkan tanganku yang membatu untuk menarik tutup pintu ruangan itu, tapi aku takut membuat zombienya terbangun.
Sam hanya menatap ruangan itu dengan mata membeliak lalu menyalakan kembali senter kearah Gerald dan menyuruh dia untuk keluar.
Gerald menggeleng menolak, takut membuat bunyi ketika membuka pintu.
"Tidak." Ucapku tanpa mengeluarkan suara.
Aku menjelaskan dengan bahasa tubuh menunjuk keruangan zombie itu. Dengan melipat dan menaruh kedua tangan disisi pipi kananku dan berharap ia mengerti bahwa aku sedang memperagakan orang tidur kepadanya.
"Ayolah Gerald!!" Aku memohon tanpa suara.
Akhirnya Gerald menggangguk dan dengan langkah perlahan mendekati pintu yang berada disamping jendelanya.
Terlihat gagang pintu memutar dan mengeluarkan bunyi, ketika aku melirik, zombie itu terlihat menggerak-gerakkan kepalanya, kemudian kembali menunduk. Jantungku rasanya mau pecah saking ketakutannya.