Laboratorium

23.3K 3.4K 428
                                        

20.00 wib

Kami berjalan dalam diam semenjak dari ruang makan. Aku memimpin langkah paling depan menuju ruang lab, dengan perut terasa benar benar penuh. Karena sebelumnya Dokter Astrid memaksa kami makan sampai kenyang.

Ketika sampai dipertengahan tangga lantai dua, Kapten Ryan menepuk pundakku dari belakang.

"Hei Luce, kau tahu dari mana?"

"Hah?"

Langkahku terhenti. Letnan Jan dan Dokter Astrid mendahuluiku menaiki tangga.

"Kau tahu dari mana ruangan lab adanya dilantai dua ini? kupikir kau daritadi hanya berjalan asal saja."

"Ah aku tadi dapat tur singkat dari Briptu Adam-"

"Kalian ke atas sini?!"
Sahut Dokter Astrid yang tak kusangka mendengar penjelasanku.
Ia terdengar gusar sekali.
"Apa yang ia tunjukkan diatas sini?!"

"Apa?--Tidak ada! kami hanya melihat zombie yang jatuh di lapangan samping lewat jendela lantai dua ini."

Letnan Jan berjalan terus dan menyalakan saklar lampu koridor.
"Akan saya tegur dia nanti."

"Astaga, dia hanya menunjukkan zombie yang jatuh dari lantai dua saja-"

"Iya, tapi yang jelas dilarang berjalan sembarangan dilantai dua ini, terlebih karena ini tempat dimana adanya laboratorium, jadi bersifat sensitif!!"
Tekan Dokter Astrid.

Aku memutar bola mata, lanjut melangkah menaiki tangga.
"Ooke--oke baiklah. Aku minta maaf."

"Kau juga Felix seharusnya mengawasinya terus dengan benar!"

"Lah bukan salahku Kapt, Luce kan berjalan sendiri ketika aku sedang membantu operasi Ekos-"

"Oh hayolah kalian berdua!!"
Tolehku.

Letnan Jan yang berjalan paling depan mendorong buka pintu kaca lab dan mempersilahkan kami semua masuk.

Kemudian ia menutup rapat pintu kaca itu kembali, baru menyalakan semua lampu dalam lab diikuti dengan membuka lemari hitam didekat saklar lampu, mengeluarkan plastik pelapis bewarna kehijauan.

"Pakai ini disepatu kalian, nanti setelah keluar dari lab kembali dibuka!"

Ketika kami sibuk memakaikan plastik itu ke sepatu kami,
Dokter Astrid mengeluarkan beberapa pakaian lab yang bewarna putih susu dan memberikannya kepada kami.

Prajurit Felix menatap pakaian lab ditangannya, salah satu alisnya terangkat.

Prajurit Felix menatap pakaian lab ditangannya, salah satu alisnya terangkat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Pelindung satu badan? Biasanya hanya jas lab saja."
Ia memberiku dan Kapten tatapan heran sebelum mengangkat bahu lalu mulai memakainya.

Mengikuti Prajurit Felix, aku membuka secara perlahan resleting depan pakaian pelindung itu sampai ke bawah.

RED CITY : ISOLATIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang